Minggu, 05 Februari 2023
Jumat, 03 Februari 2023
Keutamaan Bulan Rojab Dan Hadits Tidak Shahih Seputar Keutamaan Bulan Rojab
Keutamaan Bulan Rojab Dan Hadits Tidak Shahih Seputar Keutamaan Bulan Rojab
Setahu kita tiada dalil shahih yang menerangkan keutamaan bulan Rajab kecuali dalil yang menyatakan bahwa Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram/suci. Dalil tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36). Dan hadits Nabi shallallahualaihi wa sallam dari Abu Bakrah :
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi Rajab salah satu diantaranya. Inilah yang menjadikan Rajab adalah bulan yang istimewa. Ibadah di dalamnya bernilai besar pahalanya, sebagaimana dosa juga besar nilainya, dibanding yang dilakukan di luar bulan Rajab dan tiga bulan haram lainnya.
Peringatan Keras Berdusta Atas Nabi Dan Larangan Menyebarkan Hadits Tidak Shahih (Lemah/Palsu)
Dalam hadits dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين
“Barang siapa yang menyampaikan suatu hadits dariku, sementara dia menyangka bahwasanya hadits tersebut dusta maka dia termasuk di antara salah satu pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya, 1/7, Ibnu Majah dalam sunannya no. 43).
Imam Ibn Hibban dalam Al-Majruhin (1/9) mengatakan :
فكل شاك فيما يروي أنه صحيح أو غير صحيح داخل في الخبر
“Setiap orang yang ragu terhadap hadits yang dia riwayatkan, apakah hadits tersebut shahih ataukah tidak shahih (dhaif), tercakup dalam ancaman hadits ini.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hlm. 160).
Mari kita renungkan, ketika orang yang menyampaikan sebuah hadits, sementara dia ragu terhadap keabsahan hadits tersebut, shahih ataukah dhaif, dan dia tetap menyampaikan hadits itu tanpa memberikan keterangan statusnya maka orang semacam ini termasuk dalam ancaman, disebut sebagai pendusta.
Hadits Tidak Shahih (Lemah/Palsu) Seputar Keutamaan Bulan Rajab
Ibnu Hajar rahimahullah pernah menegaskan dalam buku beliau “Tabyin Al-‘ajab bima Warada fi Fadhli Rajab” (Menyingkap keheranan riwayat-riwayat tentang keutamaan bulan Rajab),
لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيء منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة
"Tak ada hadis shahih yang dapat dijadikan argument yang menerangkan keutamaan bulan Rajab, tidak tentang puasanya atau tentang keutamaan puasa khusus di bulan itu, tidak juga tentang shalat malam yang dikhususkan pada bulan itu." (lihat Tabyin Al-‘ajab, hal. 11)
Berikut kita akan sebutkan beberapa hadis dhaif dan palsu yang banyak disebarkan masyarakat terkait bulan Rajab, beserta penjelasan sisi kelemahannya.
Hadits Pertama :
إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أشد بياضاً من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر
“Sesungguhnya di Jannah ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.”
Al-Hafidz menjelaskan, "Hadis ini disebutkan Abul Qosim At Taimi dalam At Targhib wat Tarhib, al Ashbahani dalam kitab Fadlus Shiyam, dan al Baihaqi dalam Fadhail Auqat, serta Ibnu Syahin dalam at-Targhib wa Tarhib." (lihat Tabyin al-Ajab, hlm 9)
Ibnul Jauzi mengatakan dalam al Ilal al Mutanahiyah, “Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu. (al Ilal al Mutanahiyah, 2/65)
Hadits Kedua:
Hadits yang menyebutkan doa,
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
"Allahumma baarik lanaa fii rajabin wa sya’baana wa ballighnaa Ramadhaana." (“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”)
Hadits ini diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya no. 2346. dan di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad. Tentang para perawi ini, Imam Bukhari dan an-Nasai memberi komentar, “Munkarul hadis”. Abu Daud mengatakan, “Saya tidak mengenal haditsnya.” Sementara Abu Hatim menjelaskan, “Zaidah meriwayatkan dari Ziyadah An Numairi dari Anas, beberapa hadis marfu’ yang munkar. Saya tidak mengenal haditsnya maupun hadits Ziyadah an-Numairi.”
Tentang Ziyadah An Numairi. Beliau dinilai dhaif oleh Ibnu Main dan Abu Daud. Abu Hatim mengatakan, “Haditsnya bisa ditulis tapi tidak bisa dijadikan pendukung.”
Syuaib al-Arnauth menegaskan sanad hadits ini dhaif, lalu beliau menyebutkan sisi cacat hadits ini sebagaimana keterangan di atas. (Tahqiq Musnad Ahmad, 4/180).
Hadits Ketiga :
فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الأذكار
"Keutamaan Rajab dibanding bulan yang lain, seperti keutamaan Al Qur’an dibanding dzikir yang lain."
Ibn Hajar mengatakan, Perawi dalam sanad hadits ini tsiqqah, selain as Saqathi. Dialah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu hadits. (Tabyinul Ajab, hlm. 17)
Hadits Keempat : sholat Raghaib
رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي … ولكن لا تغفلوا عن أول ليلة جمعة من رجب فإنها ليلة تسميها الملائكة الرغائب ، وذلك أنه إذا مضى ثلث الليل لا يبقى ملك مقرب في جميع السموات والأرض ، إلا ويجتمعون في الكعبة وحواليها ، فيطلع الله عز وجل عليهم اطلاعة فيقول : ملائكتي سلوني ما شئتم ، فيقولون : يا ربنا حاجتنا إليك أن تغفر لصوم رجب ، فيقول الله عز وجل: قد فعلت ذلك . ثم قال صلى الله عليه وسلم : وما من أحد يصوم يوم الخميس ، أول خميس في رجب ، ثم يصلي فيما بين العشاء والعتمة ، يعني ليلة الجمعة ، ثنتي عشرة ركعة …….
"Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan umatku… namun janganlah kalian lupa dengan malam jum’at pertama bulan Rajab, karena malam itu adalah malam yang disebut oleh para malaikat dengan Ar Raghaib. Di mana apabila telah berlalu sepertiga malam, tidak ada satupun malaikat yang berada di semua lapisan langit dan bumi, kecuali mereka berkumpul di Ka’bah dan sekitarnya. Kemudian Allah melihat kepada mereka, dan berfirman: Wahai malaikatKu, mintalah apa saja yang kalian inginkan. Maka mereka mengatakan: Wahai Tuhan kami, keinginan kami adalah agar engkau mengampuni orang yang suka puasa Rajab. Allah berfirman: Hal itu sudah Aku lakukan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berpuasa hari kamis pertama di bulan Rajab, kemudian shalat antara maghrib sampai isya’ – yaitu pada malam jum’at – dua belas rakaat…”
Hadits ini palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/124 – 126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ajab, hal. 22 – 24, dan As Syaukani dalam Al fawaid Al Majmu’ah, hal. 47 – 50)
Hadits Kelima :
من صام ثلاثة أيام من رجب كتب الله له صيام شهر ومن صام سبعة أيام أغلق عنه سبعة أبواب من النار…
"Barang siapa yang berpuasa tiga hari bulan Rajab, Allah catat baginya puasa sebulan penuh. Siapa yang puasa tujuh hari maka Allah menutup tujuh pintu neraka."
Ibnul Jauzi menyebutkan hadits ini dalam al-Maudlu’at :
هذا حديث لا يصح. وفى صدره أبان. وقال أحمد والنسائي والدارقطني: متروك. وفيه عمرو ابن الازهر. قال أحمد: كان يضع الحديث
Hadits ini tidak shahih. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Aban. Kata Ahmad, Nasai dan Daruquthni, “Perawi matruk (ditinggalkan).” Dalam sanadnya juga ada perawi Amr bin Azhar, dan kata Ahmad, ‘Dia memalsu hadis.’ (al-Maudlu’at, 2/206)
Hadits Keenam :
من صام من رجب وصلى فيه أربع ركعات …. لم يمت حتى يرى مقعده من الجنة أو يرى له
"Siapa yang puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat…maka dia tidak akan mati sampai dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan."
As-Syaukani mengatakan,
موضوع وأكثر رواته مجاهيل
Hadis palsu, mayoritas perawinya majhul (tidak dikenal) (al-Fawaid al-Majmu’ah, hlm. 47).
Hadits Ketujuh :
رجب شهر الله الأصم،من صام من رجب يوماً إيماناً واحتساباً استوجب رضوان الله الأكبر
"Rajab adalah bulan Allah al-Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridla Allah yang besar."
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr an-Naqasy dan al-Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan, an-Naqasy adalah pemalsu hadits, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadits ini dengan hadits maudlu’. (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/114)
Setahu kita tiada dalil shahih yang menerangkan keutamaan bulan Rajab kecuali dalil yang menyatakan bahwa Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram/suci. Dalil tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36). Dan hadits Nabi shallallahualaihi wa sallam dari Abu Bakrah :
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi Rajab salah satu diantaranya. Inilah yang menjadikan Rajab adalah bulan yang istimewa. Ibadah di dalamnya bernilai besar pahalanya, sebagaimana dosa juga besar nilainya, dibanding yang dilakukan di luar bulan Rajab dan tiga bulan haram lainnya.
Peringatan Keras Berdusta Atas Nabi Dan Larangan Menyebarkan Hadits Tidak Shahih (Lemah/Palsu)
Dalam hadits dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ حَدّثَ عَنِّي بِحَديثٍ يُــرَي أَنّه كَذِبٌ فَهو أَحَدُ الكَاذِبِين
“Barang siapa yang menyampaikan suatu hadits dariku, sementara dia menyangka bahwasanya hadits tersebut dusta maka dia termasuk di antara salah satu pembohong.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya, 1/7, Ibnu Majah dalam sunannya no. 43).
Imam Ibn Hibban dalam Al-Majruhin (1/9) mengatakan :
فكل شاك فيما يروي أنه صحيح أو غير صحيح داخل في الخبر
“Setiap orang yang ragu terhadap hadits yang dia riwayatkan, apakah hadits tersebut shahih ataukah tidak shahih (dhaif), tercakup dalam ancaman hadits ini.” (Dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hlm. 160).
Mari kita renungkan, ketika orang yang menyampaikan sebuah hadits, sementara dia ragu terhadap keabsahan hadits tersebut, shahih ataukah dhaif, dan dia tetap menyampaikan hadits itu tanpa memberikan keterangan statusnya maka orang semacam ini termasuk dalam ancaman, disebut sebagai pendusta.
Hadits Tidak Shahih (Lemah/Palsu) Seputar Keutamaan Bulan Rajab
Ibnu Hajar rahimahullah pernah menegaskan dalam buku beliau “Tabyin Al-‘ajab bima Warada fi Fadhli Rajab” (Menyingkap keheranan riwayat-riwayat tentang keutamaan bulan Rajab),
لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيء منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة
"Tak ada hadis shahih yang dapat dijadikan argument yang menerangkan keutamaan bulan Rajab, tidak tentang puasanya atau tentang keutamaan puasa khusus di bulan itu, tidak juga tentang shalat malam yang dikhususkan pada bulan itu." (lihat Tabyin Al-‘ajab, hal. 11)
Berikut kita akan sebutkan beberapa hadis dhaif dan palsu yang banyak disebarkan masyarakat terkait bulan Rajab, beserta penjelasan sisi kelemahannya.
Hadits Pertama :
إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أشد بياضاً من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر
“Sesungguhnya di Jannah ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.”
Al-Hafidz menjelaskan, "Hadis ini disebutkan Abul Qosim At Taimi dalam At Targhib wat Tarhib, al Ashbahani dalam kitab Fadlus Shiyam, dan al Baihaqi dalam Fadhail Auqat, serta Ibnu Syahin dalam at-Targhib wa Tarhib." (lihat Tabyin al-Ajab, hlm 9)
Ibnul Jauzi mengatakan dalam al Ilal al Mutanahiyah, “Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu. (al Ilal al Mutanahiyah, 2/65)
Hadits Kedua:
Hadits yang menyebutkan doa,
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
"Allahumma baarik lanaa fii rajabin wa sya’baana wa ballighnaa Ramadhaana." (“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”)
Hadits ini diriwayatkan Ahmad dalam musnadnya no. 2346. dan di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad. Tentang para perawi ini, Imam Bukhari dan an-Nasai memberi komentar, “Munkarul hadis”. Abu Daud mengatakan, “Saya tidak mengenal haditsnya.” Sementara Abu Hatim menjelaskan, “Zaidah meriwayatkan dari Ziyadah An Numairi dari Anas, beberapa hadis marfu’ yang munkar. Saya tidak mengenal haditsnya maupun hadits Ziyadah an-Numairi.”
Tentang Ziyadah An Numairi. Beliau dinilai dhaif oleh Ibnu Main dan Abu Daud. Abu Hatim mengatakan, “Haditsnya bisa ditulis tapi tidak bisa dijadikan pendukung.”
Syuaib al-Arnauth menegaskan sanad hadits ini dhaif, lalu beliau menyebutkan sisi cacat hadits ini sebagaimana keterangan di atas. (Tahqiq Musnad Ahmad, 4/180).
Hadits Ketiga :
فضل رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الأذكار
"Keutamaan Rajab dibanding bulan yang lain, seperti keutamaan Al Qur’an dibanding dzikir yang lain."
Ibn Hajar mengatakan, Perawi dalam sanad hadits ini tsiqqah, selain as Saqathi. Dialah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu hadits. (Tabyinul Ajab, hlm. 17)
Hadits Keempat : sholat Raghaib
رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي … ولكن لا تغفلوا عن أول ليلة جمعة من رجب فإنها ليلة تسميها الملائكة الرغائب ، وذلك أنه إذا مضى ثلث الليل لا يبقى ملك مقرب في جميع السموات والأرض ، إلا ويجتمعون في الكعبة وحواليها ، فيطلع الله عز وجل عليهم اطلاعة فيقول : ملائكتي سلوني ما شئتم ، فيقولون : يا ربنا حاجتنا إليك أن تغفر لصوم رجب ، فيقول الله عز وجل: قد فعلت ذلك . ثم قال صلى الله عليه وسلم : وما من أحد يصوم يوم الخميس ، أول خميس في رجب ، ثم يصلي فيما بين العشاء والعتمة ، يعني ليلة الجمعة ، ثنتي عشرة ركعة …….
"Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan umatku… namun janganlah kalian lupa dengan malam jum’at pertama bulan Rajab, karena malam itu adalah malam yang disebut oleh para malaikat dengan Ar Raghaib. Di mana apabila telah berlalu sepertiga malam, tidak ada satupun malaikat yang berada di semua lapisan langit dan bumi, kecuali mereka berkumpul di Ka’bah dan sekitarnya. Kemudian Allah melihat kepada mereka, dan berfirman: Wahai malaikatKu, mintalah apa saja yang kalian inginkan. Maka mereka mengatakan: Wahai Tuhan kami, keinginan kami adalah agar engkau mengampuni orang yang suka puasa Rajab. Allah berfirman: Hal itu sudah Aku lakukan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berpuasa hari kamis pertama di bulan Rajab, kemudian shalat antara maghrib sampai isya’ – yaitu pada malam jum’at – dua belas rakaat…”
Hadits ini palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/124 – 126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ajab, hal. 22 – 24, dan As Syaukani dalam Al fawaid Al Majmu’ah, hal. 47 – 50)
Hadits Kelima :
من صام ثلاثة أيام من رجب كتب الله له صيام شهر ومن صام سبعة أيام أغلق عنه سبعة أبواب من النار…
"Barang siapa yang berpuasa tiga hari bulan Rajab, Allah catat baginya puasa sebulan penuh. Siapa yang puasa tujuh hari maka Allah menutup tujuh pintu neraka."
Ibnul Jauzi menyebutkan hadits ini dalam al-Maudlu’at :
هذا حديث لا يصح. وفى صدره أبان. وقال أحمد والنسائي والدارقطني: متروك. وفيه عمرو ابن الازهر. قال أحمد: كان يضع الحديث
Hadits ini tidak shahih. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Aban. Kata Ahmad, Nasai dan Daruquthni, “Perawi matruk (ditinggalkan).” Dalam sanadnya juga ada perawi Amr bin Azhar, dan kata Ahmad, ‘Dia memalsu hadis.’ (al-Maudlu’at, 2/206)
Hadits Keenam :
من صام من رجب وصلى فيه أربع ركعات …. لم يمت حتى يرى مقعده من الجنة أو يرى له
"Siapa yang puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat…maka dia tidak akan mati sampai dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan."
As-Syaukani mengatakan,
موضوع وأكثر رواته مجاهيل
Hadis palsu, mayoritas perawinya majhul (tidak dikenal) (al-Fawaid al-Majmu’ah, hlm. 47).
Hadits Ketujuh :
رجب شهر الله الأصم،من صام من رجب يوماً إيماناً واحتساباً استوجب رضوان الله الأكبر
"Rajab adalah bulan Allah al-Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridla Allah yang besar."
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr an-Naqasy dan al-Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan, an-Naqasy adalah pemalsu hadits, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadits ini dengan hadits maudlu’. (al-Lali’ al-Mashnu’ah, 2/114)
Jumat, 27 Januari 2023
Selasa, 24 Januari 2023
Minggu, 22 Januari 2023
Membongkar Kebatilan Dan Kedustaan Keyakinan Sebagian Orang Islam Terkait Tahun Baru Cina
Membongkar Kebatilan Dan Kedustaan Keyakinan Sebagian Muslimin "Setiap Memasuki Tahun Baru Cina Mulai Tengah Malam Pasti Senantiasa Diguyur Hujan Lama (Terus Menerus) Yang Hampir Tiada Berhenti"
1. Sesungguhnya perkara hujan termasuk kunci ilmu ghaib dan hanya Allah yang tahu kapan turunnya.
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللَّهُ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِى غَدٍ ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِى الأَرْحَامِ ، وَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ، وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ، وَمَا يَدْرِى أَحَدٌ مَتَى يَجِىءُ الْمَطَرُ
“Kunci ilmu ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya (secara pasti) kecuali Allah Ta’ala. (1) Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terjadi keesokan harinya,
(2) Tidak ada seorangpun mengetahui apa yang terjadi dalam rahim, (3) Tidak ada satu jiwapun yang mengetahui apa yang ia lakukan besok, (4) Tidak ada satu jiwapun yang mengetahui dimanakah ia akan mati, (5) Dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan.” ( HR.Bukhari no. 1039, dari Ibnu ‘Umar )
Inilah lima hal yang disebut dengan mafatihul ghoib (kunci ilmu ghaib). Dan diantara kunci ilmu ghaib adalah diturunkannya hujan.
2. Lihatlah faktanya berikut ini :
(1) Jika Allah berkehendak maka Allah Maha Mampu menahan hujan pada musim penghujan ataupun menurunan hujan pada musim kemarau. Allah Maha Mampu menurunkan hujan di gurun pasir ataupun menahannya. Dan ini sudah terbuk benar.
(2) Betapa sering kita temui di prakiraan cuaca dikatakan hujan, tapi ternyata tidak hujan. Demikian juga sebaliknya. Sehingga data prakiraan cuaca sering berubah-ubah.
(3) Sihir pawang hujan pun tidak selamanya berhasil. Semua sihir itu tidak bisa terjadi kecuali dengan idzin Allah. Betapa sering kejadian "menambak hujan" dengan ritual tertentu ataupun bantuan jin angin tapi ternyata justru turun hujan. Aku beberapa kali pernah menyaksikan ketika langit mendung kemudian aku punya firasat mungkin ini akibat ada sekelompok jin angin yang berupaya menahan hujan maka aku pun membaca ayat kursi atau adzan maka tidak lama setelah itu turun hujan..wa Alhamdulillah.
Jika pawang hujan mengklaim benar-benar punya kemaampuan mengendalikan hujan, maka kita tantang :
"Silahkan turunkan hujan selama 19 hari berturut-turut kemudian tahan hujan selama 17 hari. Kemudian turunkan hujan 3 hari dan tahan hujan selama 1 hari. Setelah itu turunkan hujan selama 1 hari. Sehingga genap 41 hari."
Apa ada yang mampu.??
(4) Musim-musim di Australia berkebalikan dengan musim-musim yang dialami oleh negara-negara di belahan dunia utara. Menurut ilmu klimatologi musim panas berlangsung pada bulan Desember hingga Februari; musim gugur pada bulan Maret hingga Mei; musim dingin pada bulan Juni hingga Agustus; dan musim semi pada bulan September hingga November. Di Australia pada bulan Desember sampai Februari menurut ilmu klimatologi adalah musim panas..apa pada tahun baru Cina sering terjadi hujan.?
(5) Aku sudah bangun sebelum pukul 00.00 WIB ternyata seperti hari-hari biasa dan tiada hujan deras. Hanya gerimis ringan sebentar sehingga tidak menjadikan pakaian basah kunyup andai berada di luar rumah.
(6) Beberapa tahun yang lalu pernah kuamati tidak hujan sama sekali. Paginya cerah karena langit taat kepada Allah, sehingga enggan menurunkan hujan pada tahun baru Cina.
(7) Insya Allah banyak wilayah yang ada di muka bumi pada tahun baru Cina tidak diguyur hujan terutama di wilayah-wilayah gurun pasir yang gersang dan jarang hujan.
Silahkan dicek wilayah di Bali (seperti Denpasar, Tabanan) kemudian Jeddah, Madinah, Australia dan lain-lain apa hari ini hujan?
Wa Allahu a'lam.
1. Sesungguhnya perkara hujan termasuk kunci ilmu ghaib dan hanya Allah yang tahu kapan turunnya.
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللَّهُ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِى غَدٍ ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِى الأَرْحَامِ ، وَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ، وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ، وَمَا يَدْرِى أَحَدٌ مَتَى يَجِىءُ الْمَطَرُ
“Kunci ilmu ghaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya (secara pasti) kecuali Allah Ta’ala. (1) Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang terjadi keesokan harinya,
(2) Tidak ada seorangpun mengetahui apa yang terjadi dalam rahim, (3) Tidak ada satu jiwapun yang mengetahui apa yang ia lakukan besok, (4) Tidak ada satu jiwapun yang mengetahui dimanakah ia akan mati, (5) Dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan.” ( HR.Bukhari no. 1039, dari Ibnu ‘Umar )
Inilah lima hal yang disebut dengan mafatihul ghoib (kunci ilmu ghaib). Dan diantara kunci ilmu ghaib adalah diturunkannya hujan.
2. Lihatlah faktanya berikut ini :
(1) Jika Allah berkehendak maka Allah Maha Mampu menahan hujan pada musim penghujan ataupun menurunan hujan pada musim kemarau. Allah Maha Mampu menurunkan hujan di gurun pasir ataupun menahannya. Dan ini sudah terbuk benar.
(2) Betapa sering kita temui di prakiraan cuaca dikatakan hujan, tapi ternyata tidak hujan. Demikian juga sebaliknya. Sehingga data prakiraan cuaca sering berubah-ubah.
(3) Sihir pawang hujan pun tidak selamanya berhasil. Semua sihir itu tidak bisa terjadi kecuali dengan idzin Allah. Betapa sering kejadian "menambak hujan" dengan ritual tertentu ataupun bantuan jin angin tapi ternyata justru turun hujan. Aku beberapa kali pernah menyaksikan ketika langit mendung kemudian aku punya firasat mungkin ini akibat ada sekelompok jin angin yang berupaya menahan hujan maka aku pun membaca ayat kursi atau adzan maka tidak lama setelah itu turun hujan..wa Alhamdulillah.
Jika pawang hujan mengklaim benar-benar punya kemaampuan mengendalikan hujan, maka kita tantang :
"Silahkan turunkan hujan selama 19 hari berturut-turut kemudian tahan hujan selama 17 hari. Kemudian turunkan hujan 3 hari dan tahan hujan selama 1 hari. Setelah itu turunkan hujan selama 1 hari. Sehingga genap 41 hari."
Apa ada yang mampu.??
(4) Musim-musim di Australia berkebalikan dengan musim-musim yang dialami oleh negara-negara di belahan dunia utara. Menurut ilmu klimatologi musim panas berlangsung pada bulan Desember hingga Februari; musim gugur pada bulan Maret hingga Mei; musim dingin pada bulan Juni hingga Agustus; dan musim semi pada bulan September hingga November. Di Australia pada bulan Desember sampai Februari menurut ilmu klimatologi adalah musim panas..apa pada tahun baru Cina sering terjadi hujan.?
(5) Aku sudah bangun sebelum pukul 00.00 WIB ternyata seperti hari-hari biasa dan tiada hujan deras. Hanya gerimis ringan sebentar sehingga tidak menjadikan pakaian basah kunyup andai berada di luar rumah.
(6) Beberapa tahun yang lalu pernah kuamati tidak hujan sama sekali. Paginya cerah karena langit taat kepada Allah, sehingga enggan menurunkan hujan pada tahun baru Cina.
(7) Insya Allah banyak wilayah yang ada di muka bumi pada tahun baru Cina tidak diguyur hujan terutama di wilayah-wilayah gurun pasir yang gersang dan jarang hujan.
Silahkan dicek wilayah di Bali (seperti Denpasar, Tabanan) kemudian Jeddah, Madinah, Australia dan lain-lain apa hari ini hujan?
Wa Allahu a'lam.
Sabtu, 31 Desember 2022
Ruh Orang Mati Di Alam Barzakh
RUH ORANG MATI DI ALAM BARZAKH
1. Alam Barzakh
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan melewati alam kubur. Alam ini disebut pula alam barzakh yang artinya perantara antara alam dunia dengan alam akhirat, sebagaimana firman Allah Ta'ala :
{حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100) }
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada Barzakh (dinding pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. al-Mukminûn/23:100)
Para ahli tafsir dari Ulama Salaf sepakat mengatakan, “Barzakh adalah perantara antara dunia dan akhirat, atau perantara antara masa setelah mati dan hari kebangkitan.[1]”
2. Ruh Orang Jahat Dan Zholim Diancam Siksa Qubur
Allah Ta'ala berfirman :
وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.” (QS. Ghafir/ Al Mu’min: 45-46)
Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Arwah Fir’aun dan pengikutnya dihadapkan ke neraka setiap pagi dan petang terus-menerus hingga datang hari kiamat. Ketika kiamat datang barulah arwah dan jasad mereka sama-sama merasakan api neraka”. Beliau juga berkata, “Ayat-ayat ini adalah landasan kuat bagi Ahlussunnah tentang adanya adzab kubur” (Tafsir Al Qur’an Azhim, 7/146). Hal ini juga senada dengan penjelasan jumhur ahli tafsir seperti Mujahid (dinukil dari An Nukat Wal’Uyun, 4/39), Al Alusi (Ruuhul Ma’ani, 18/103), Asy Syaukani (Fathul Qadir, 6/328), Al Baidhawi (Anwar At Tanziil, 5/130), Muhammad Amin Asy Syinqithi (Adhwa’ Al Bayan, 7/82), Abdurrahman As Sa’di (Taisiir Kariim Ar Rahman, 738).
3. Ruh Para Syuhada'
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah: 154)
Al Hafidz Ibnu Katsir memaparkan, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa para syuhada itu hidup di alam barzakh dalam keadaan senantiasa diberi rizki oleh Allah, sebagaimana dalam hadits yang terdapat pada Shahih Muslim….(lalu beliau menyebutkan haditsnya)” (Tafsir Al Qur’an Azhim, 1/446). Mengenai keadaan para syuhada yang setelah wafat mendapat kenikmatan di sisi Allah di alam barzakh adalah pendapat jumhur mufassirin, di antaranya Mujahid, Qatadah, Abu Ja’far, ‘Ikrimah (Lihat Tafsir Ath Thabari, 3/214), Jalalain (160), Al Baghawi (Ma’alim At Tanzil, 168), Al Alusi (Ruuhul Ma’ani, 2/64), dll. Mereka hanya berbeda pendapat tentang bagaimana bentuk rizki atau kesenangan tersebut.
4. Ruh Para Nabi Di Ar Rafiq Al A'la
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit dan mendekati ajal, sementara kepala beliau di pangkuan A’isyah, beliau pingsan. Ketika sadar, beliau menengadahkan matanya ke atap rumah, kemudian beliau mengucapkan,
اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى
”Ya Allah, bersama ar-Rafiq al-A’la”
A’isyah lalu bertanya, “Berarti anda nanti tidak bersama kami?”
Namun ternyata tidak ada jawaban beliau. A’isyah sadar bahwa beliau dalam keadaan seperti yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sehat. (HR. Bukhari 4437 dan Muslim 2444).
Mayoritas ulama menegaskan bahwa yang dimaksud ar-Rafiq al-A’la adalah arwah para nabi dan rasul yang berada di tempat yang sangat tinggi. (Syarh Shahih Muslim an-Nawawi, 15/208).
Hadis ini juga dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa arwah yang baik, akan saling ketemu setelah dia berpisah dari jasadnya. Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, beliau diberi pilihan antara tetap tinggal di dunia ataukah bersama ruh para nabi. Kemudian beliau memilih “ar-Rafiq al-A’la”, bersama ruh para nabi yang berada di illiyin, tempat yang sangat tinggi.
Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan,
أن الأرواح قسمان: أرواح معذبة، وأرواح منعمة، فالمعذبة في شغل بما هي فيه من العذاب عن التزاور والتلاقي والأرواح المنعمة المرسلة غير المحبوسة تتلاقى، وتتزاور، وتتذاكر ما كان منها في الدنيا، وما يكون من أهل الدنيا، فتكون كل روح مع رفيقها الذي هو على مثل عملها، فروح نبينا محمد صلى الله عليه وسلم في الرفيق الأعلى
Arwah itu ada dua, arwah yang sedang disiksa dan arwah yang mendapat nikmat. Arwah yang sedang disiksa, dia berada dalam kesibukannya menerima siksa, sehingga tidak bisa saling mengunjungi dan saling bertemu. Sementara ruh yang mendapatkan kenikmatan, dia dilepas, dan tidak ditahan, sehingga bisa saling berjumpa, saling berkunjung, saling menyebutkan keadaannya ketika di dunia, dan keadaan penduduk dunia. Sehingga setiap ruh, bersama rekannya yang memiliki amal semisal dengannya. Ruh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ar-Rafiq al-A’la.
Kemudian Syaikh ar-Rajihi menyebutkan dalilnya,
والدليل على تزاورها، وتلاقيها قول الله تعالى: {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا{ وهذه المعية ثابتة في الدنيا، وفي دار البرزخ، وفي دار الجزاء، والمرء مع من أحب في هذه الدور الثلاث
Dalil bahwa mereka saling berkunjung dan saling bertemu adalah firman Allah, yang artinya, “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69).
Kebersamaan ini bersifat hakiki, di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat negeri pembalasan. Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di tiga tempat ini.
5. Ruh anak kecil diasuh nabi Ibrohim.
Dari Samrah bin Jundub –adhiyallahu ‘anhu- berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لِأَصْحَابِهِ: هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا؟ قَالَ: فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ، وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ: إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي...
قَالَ: قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى رَوْضَةٍ مُعْتَمَّةٍ، فِيهَا مِنْ كُلِّ لَوْنِ الرَّبِيعِ، وَإِذَا بَيْنَ ظَهْرَيِ الرَّوْضَةِ رَجُلٌ طَوِيلٌ، لاَ أَكَادُ أَرَى رَأْسَهُ طُولًا فِي السَّمَاءِ، وَإِذَا حَوْلَ الرَّجُلِ مِنْ أَكْثَرِ وِلْدَانٍ رَأَيْتُهُمْ قَطُّ، قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَذَا مَا هَؤُلاَءِ؟ قَالَ: قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ!...
قَالَ: قُلْتُ لَهُمَا: فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا، فَمَا هَذَا الَّذِي رَأَيْتُ؟ قَالَ: قَالاَ لِي: أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ...
وَأَمَّا الرَّجُلُ الطَّوِيلُ الَّذِي فِي الرَّوْضَةِ فَإِنَّهُ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَّا الوِلْدَانُ الَّذِينَ حَوْلَهُ فَكُلُّ مَوْلُودٍ مَاتَ عَلَى الفِطْرَةِ، قَالَ: فَقَالَ بَعْضُ المُسْلِمِينَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَوْلاَدُ المُشْرِكِينَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَأَوْلاَدُ المُشْرِكِينَ
رواه البخاري (7047).
“Bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- banyak berkata kepada para sahabat: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang bermimpi ?”, ia berkata: “Maka ada saja orang yang bercerita pada saat itu, dan pada suatu pagi beliau bersabda:
“Tadi malam ada dua orang yang telah mendatangiku, keduanya menjadikanku terbangun…
Keduanya berkata kepadaku: “Pergi, pergi, maka kami pun pergi, lalu kami sampai di sebuah taman yang gelap, di sana terdapat semua warna pada musim semi, seraya di tengah taman ada seseorang yang tinggi, aku hampir tidak bisa melihat kepalanya karena tingginya, dan di sekitar laki-laki tersebut ada banyak anak-anak yang telah saya lihat sebelumnya, saya berkata kepada keduanya: “Ada apa ini ? dan siapa mereka ?, kedua orang itu menjawab: “pergi, pergi…!”.
Aku berkata kepada keduanya: “Sejak tadi malam saya melihat hal yang menakjuban, lalu apa yang telah saya lihat ini ?, keduanya berkata kepadaku: “Kami akan menjelaskan kepadamu….
“Adapun orang yang tinggi yang ada di taman tersebut adalah Ibrahim –‘alaihis sallam-, sedangkan anak-anak yang ada di sekitarnya adalah mereka yang meninggal dunia yang masih berada di dalam fitrah”, sebagian umat Islam bertanya: “Wahai Rasulullah, dan termasuk anak-anaknya orang-orang musyrik ?, beliau bersabda: “Ya termasuk anak-anaknya orang-orang musyrik”. (HR. Bukhori: 7047)
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ ذَرَارِيَّ الْمُؤْمِنِينَ فِي الْجَنَّةِ يَكْفُلُهُمْ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ
"Sungguh anak keturunan dari kaum Muslimin masuk surga, Ibrâhîm Alaihissallam akan mengasuh mereka.” (HR. Ahmad no.8.324 , al-Hakim no. 3.399 dan Ibnu Hibban no. 7.446, dihukumi shahih oleh adz-Dzahabi dan al-Albani).
Ini sekaligus menjelaskan bahwa hadits tentang penjagaan Nabi Ibrâhîm Alaihissallam untuk anak-anak Muslimin di surga adalah shahih.
6. Ruh orang yang sudah mati, mereka di alam barzakh dalam keadaan menikmati nikmat kubur atau diadzab di dalam kubur, tidak ada kemungkinan ketiga.
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menjelaskan: “Arwah itu ada dua macam: pertama, arwah yang diadzab, kedua, arwah yang mendapatkan nikmat.” (Ar Ruh, karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah, halaman 17.)
7. Fatwa Para Ulama'
Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Di antara akidah Ahlussunnah wal Jamah’ah adalah mengimani adanya adzab kubur dan nikmat kubur. Keadaan mayit di alam kubur, bisa jadi ia diberi nikmat, atau diberi adzab. Ahlussunnah wal Jama’ah mengimani hal ini. Dan Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa alam kubur itu bisa jadi akan menjadi taman surga, atau bisa jadi akan menjadi halaman neraka. Wajib bagi seorang Mukmin untuk mengimani hal ini” (Majmu’ al Fatawa wal Maqalat Syaikh Ibnu Baz, 28/66)
Benarkah semua ruh gentayangan tiap malam Jum'at?
Hadits yang menyatakan bahwa arwah orang mati dapat mengunjungi rumahnya dan keluarganya, hadits tersebut tidak shahih sehingga tidak bisa menjadi hujjah.
Andaikan benar ada ruh gentayangan..insya Allah yang berhak dan pantas mendapat balasan amal (karma) seperti itu hanya ruh-ruh orang jahat yang mati su'ul khotimah ataupun arwah para pendosa yang zholim.? Sebagaimana keyakinan sesat lewat nyanyian mereka. Sehingga ruh mereka dalam keadaan tersiksa, menangis dan menyesal.
Allahu a'lam, wa na'udzubillah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Ketika Nasi Hantaran Menjadi "Risywah Sosial" dan Jerat Maksiat
Ketika Nasi Hantaran Menjadi "Risywah Sosial" dan Jerat Maksiat Di tengah masyarakat kita, tradisi hantaran makanan menjelang h...
-
9 Wali Sulthan (Penguasa) Demak Mengikuti Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah 9 Wali Sulthan (Penguasa) Demak Mengikuti Madzhab Ahlus Sunna...
-
Memelihara Lihyah (Jenggot) Termasuk Sunnah Nabi Perintah Nabi Agar Memelihara Jenggot الأصل في الأمر للوجوب إلا مادل الدليل على خلافه ■...
-
Sedekah Bumi, Laut, Langit, Gunung, Pohon, Danau, Sumur, Batu, Sedekah Untuk Ratu Jin Dan Semisal Termasuk Sedekah Syirik (Menyekutukan Alla...












