Jumat, 19 Agustus 2022

IKUTILAH KEBENARAN DAN BUKAN MENGIKUTI MANUSIA



بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله رب العالمين, والصلاة و السلام على نبينا محمد, عبدالله و رسوله وعلى اله و صحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم  الدين, و بعد :

     Diantara kebiasaan jahiliyah, yaitu terpedaya dengan pendapat mayoritas, menjadikannya sebagai standar menilai kebenaran. Penilaian yang didasarkan dengan argumen seperti di atas tanpa melihat dalil yang mendukungnya, merupakan cara pandang bathil dan bertentangan dengan Islam. Allah berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalanNya." (QS. Al An’am/6:116).

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

"Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Al A’raf/7:187).

وَمَاوَجَدْنَا لأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ وَإِن وَجَدْنَآ أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

"Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik." (QS. Al A’raf/7:102).
      Ibnu Mas’ud berkata:

الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

Yang disebut jama’ah adalah jika mengikuti kebenaran, walau ia seorang diri.” (Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah 160 dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq 2/ 322/ 13).
     Sebagian salaf mengatakan:

عليك بطريق الحق ولا تستوحش لقلة السالكين وإياك وطريق الباطل ولا تغتر بكثرة الهالكين

“Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22).
     Orang yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni, itulah yang selalu teranggap asing. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنَ سَنَّةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيباً ثُمَّ يَعُودُ غَرِيباً كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ قَالَ « الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

Dari ‘Abdurrahman bin Sannah. Ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabad, “Islam itu akan datang dalam keadaan asing dan kembali dalam keadaan asing seperti awalnya. Beruntunglah orang-orang yang asing.” Lalu ada yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ghuroba’, “Mereka memperbaiki manusia ketika rusak.” (HR. Ahmad 4: 74. Berdasarkan jalur ini, hadits ini dho’if. Namun ada hadits semisal itu riwayat Ahmad 1: 184 dari Sa’ad bin Abi Waqqosh dengan sanad jayyid).
     Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ ». فَقِيلَ مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « أُنَاسٌ صَالِحُونَ فِى أُنَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ »

Beruntunglah orang-orang yang asing.” “Lalu siapa orang yang asing wahai Rasulullah”, tanya sahabat. Jawab beliau, “Orang-orang yang sholih yang berada di tengah banyaknya orang-orang yang jelek, lalu orang yang mendurhakainya lebih banyak daripada yang mentaatinya” (HR. Ahmad 2: 177. Hadits ini hasan lighoirihi, kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
     Walau terasa asing, namun begitu indahnya jika bisa berada di atas kebenaran yang dianut sebelumnya oleh Rasul dan para sahabat, yang jauh dari syirik dan bid’ah.

     Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah menyebutkan bahwa umat Islam ini pasti berpecah-belah dan sudah terjadi perpecahan ditengah-tengah kaum Muslimin. Maka solusinya Nabi menyebutkan kembali kepada Al-Jama’ah yaitu kepada مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ (aku dan para Shahabatku).
     Nabi memerintahkan kita untuk mengikuti cara beragamanya para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Dan ini hukumnya wajib. Karena para Shahabat adalah:
(1) generasi yang paling dalam ilmunya,
(2) generasi yang paling paham tentang Al-Qur’an dan Sunnah,
(3) generasi yang lebih dahulu beriman,
(4) generasi yang paling semangat mengamalkan Qur’an dan Sunnah,
(5) generasi yang telah berjihad untuk menegakkan agama ini,
(6) generasi yang menemani, menolong dan menjadi pembela Nabi,
(7) para Shahabat telah dijamin oleh Allah dengan surga.

     Ketika suatu pendapat manusia berseberangan dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang harus kita dahulukan adalah pendapat Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak seperti sebagian orang ketika sudah disampaikan hadits shahih melarang ini dan itu atau memerintahkan pada sesuatu, maka dia malah mengatakan, “Tapi Pak Kyai (pak ustadz, mbah Syaikh) saya bilang begini.” Ini beda dengan imam yang biasa jadi rujukan kaum muslimin di negeri kita. Ketika ada hadits shahih yang menyelisihi perkataannya, beliau memerintahkan untuk tetap mengikuti hadits tadi dan acuhkan pendapat beliau.
     Imam Asy Syafi’i berkata,

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي

Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211).
     Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,

أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ  وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ

Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?” (Hilyatul Auliya’, 9: 107).
     Imam Syafi’i juga berkata,

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” ( Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63).

كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ

Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35).

كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا الْخَبَرُ عَنْ رَسُولِ اللهِ عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ بِخِلاَفِ مَا  قُلْتُ فَأَناَ رَاجِعٌ عَنْهَا فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ مَوْتِي

Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107)

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ

Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.” (Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35).

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I’lamul Muwaqi’in, 2: 282).
     Perkataan Imam Syafi’i di atas memiliki dasar dari dalil-dalil berikut ini di mana kita diperintahkan mengikuti Al Qur’an dan hadits dibanding perkataan lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya” (QS. Az Zumar: 55). Sebaik-baik yang diturunkan kepada kita adalah Al Qur’an dan As Sunnah adalah penjelas dari Al Qur’an.


Berdoa Dan Berhakim Kepada Allah Dengan Mubahalah Sebagai Senjata Untuk Menghadapi Syaithon Pendusta Dan Ahlu Ahwa'

     Allah berfirman:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar"." (QS Al Baqarah: 111).
     Berkata Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:
“Kebenaran itu adalah yang tegak di atasnya dalil, Dan bukanlah kebenaran itu yang banyak di amalkan manusia.”
(Majmu’ Al-Fatawa War-Rasa’ill: 7/367).
     Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizahullah berkata:

‏إذا كانوا على غير حق فإننا لا نتبعهم ولو كانوا من أفضل الناس (شرح المنظومة الحائية ص54)

"Jika mereka tidak berada di atas kebenaran, maka kami tidak mengikuti mereka, walau mereka itu manusia yang terbaik." (Syarh Al-Manzhumah Al-Haiah, hlm. 54)
     Jika mereka tidak mampu mendatangkan burhan (dalil dari Kitabulloh, As Sunnah atau ijma' Ahlus Sunnah...serta tidak mampu nukilkan kalam Salaf) tapi dengan dusta dan angkuh mereka mengklaim benar, maka hendaknya harus siap jika diajak mubahalah.
     Allah berfirnan:

قُلْ اِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ عِنْدَ اللّٰهِ خَالِصَةً مِّنْ دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ. وَلَنْ يَّتَمَنَّوْهُ اَبَدًاۢ بِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِالظّٰلِمِيْنَ

"Katakanlah (Muhammad), “Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian jika kamu orang yang benar.” Tetapi mereka tidak akan menginginkan kematian itu sama sekali, karena dosa-dosa yang telah dilakukan tangan-tangan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim." (QS. Al Baqoroh: 94-95).
Allah berfirman:

قُلْ مَنْ كَانَ فِى الضَّلٰلَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمٰنُ مَدًّا ەۚ حَتّٰىٓ اِذَا رَاَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ اِمَّا الْعَذَابَ وَاِمَّا السَّاعَةَ ۗفَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضْعَفُ جُنْدًا

"Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa berada dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pengasih memperpanjang (waktu) baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepada mereka, baik azab maupun Kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah bala tentaranya.” (QS. Maryam: 75).
     Menurut tafsir Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah bahwa kalimat ini merupakan mubahalah terhadap orang-orang musyrik yang mengakui bahwa dirinya berada dalam jalan petunjuk. Semakna dengan mubahalah yang ditujukan terhadap orang-orang Yahudi seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

{قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ}

"Katakanlah, "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kalian mendakwakan bahwa sesungguhnya kalian sajalah kekasih Allah, bukan manusia-manusia yang lain. Maka harapkanlah kematian kalian, jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Jumu'ah: 6)
Maksudnya, harapkanlah kematian semoga menimpa kami atau kalian, jika kalian mengaku bahwa diri kalian berada dalam jalan yang benar. Sesungguhnya doa ini tidak akan menimpakan mudarat terhadap diri kalian. Akan tetapi, mereka tidak mau mengatakannya.
     Sama juga dengan mubahalah yang ditujukan kepada orang-orang Nasrani yang disebutkan di dalam surat Ali Imran, saat mereka bertekad untuk tetap pada kekafirannya dan kesesatan serta pengakuannya yang berlebih-lebihan terhadap Isa putra Maryam. Mereka mengatakannya sebagai anak Allah, padahal Allah telah menyebutkan bukti dan hujjah-Nya yang mengatakan akan kehambaan Isa, dan bahwa dia adalah makhluk Adami. Allah berfirman mengenainya:

{فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ}

"Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kalian), maka katakanlah (kepadanya), "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian: kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (QS. Ali Imran: 61)
Ternyata mereka pun menolak, tidak mau mengucapkannya.
     Mubahalah boleh dilakukan dengan sesama orang Islam yang menyeleweng, ahli bid’ah dan semacamnya, berlandaskan bahwa, ada beberapa dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu mengajak orang lain sesama umat Islam untuk mubahalah. Di antaranya:
(1) Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘iddah (masa tunggu) wanita hamil. Dan sesungguhnya iddah itu selesai dengan lahirnya kehamilan, bukan dengan lebih dua masa.
(2) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajak untuk mubahalah dalam masalah ‘aul dalam faroidh (pembagian waris).


Penutup

     Allah Ta'ala berfirman:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ࣖ

"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (QS. Al Maidah : 50).

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang shodiq dari kejujuran mereka. Bagi mereka Jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho terhadap Allah. Itulah kemenangan yang agung." (QS. 5 Al-Maidah : 119).
     Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukany rohimahullah berkata:

«إن الباطل وإن ظهر على الحق في بعض الأحوال وعلاه، فإن الله سيمحقه ويبطله ويجعل العاقبة للحق وأهله»

"Sesungguhnya kebathilan walaupun mengalahkan kebenaran pada sebagian keadaan dan mengunggulinya, maka sesungguhnya Allah pasti akan melenyapkan dan menghancurkannya serta menjadikan kesudahan yang baik bagi kebenaran dan orang-orang yang mengikutinya."
     Allah Ta'ala berfirman:

فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ

"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al Qoshosh : 50).

رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

"Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Ar Rohman, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kalian katakan.”

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين





Blora, Jumat 21 Muharram 1445 H (19-08-2022)


Hazim Al Jawiy













.

Senin, 08 Agustus 2022

 JUJUR AKHLAQ TERMULIA VERSUS DUSTA AKHLAQ PALING TERCELA



بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله رب العالمين, والصلاة و السلام على نبينا محمد, عبدالله و رسوله وعلى اله و صحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم  الدين, و بعد :

     Allah Ta'ala berfirman :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang shodiq (jujur dan benar)." ( QS. At Taubah : 119 ).


Bab I. Jujur  Akhlaq Paling Mulia

     Jujur adalah sifat mulia yang berfungsi sebagai perias jiwa dan mengangkat derajat akhlaq manusia. Rosulullah adalah pemuka orang-orang yang jujur sehingga kejujuran beliau sangat menonjol dan merupakan sifat yang melekat pada pribadi dan jati diri beliau. Sejak kecil beliau terkenal dengan sifat jujur bahkan menjadi panutan dan simbol dalam kejujuran.
     Allah Ta'ala telah mengabarkan bahwa nanti pada hari Qiyamat tiada yang mampu memberi manfaat kecuali kejujuran dan tiada yang mampu memberi keselamatan kecuali kejujuran sebagaimana firman Allah:

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

"Allah berfirman, “Inilah saat orang yang shodiq memperoleh manfaat dari kejujurannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”  (QS. Al Maidah: 119).
    Allah Ta'ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang shodiq (jujur dan benar)."  ( QS. At-Taubah : 119 ).
     Allah Ta'ala berfirman :

وَالَّذِيْ جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa." ( QS. Az Zumar : 33 ).
     Allah Ta'ala perintahkan para hamba-Nya yang beriman agar jujur dan berpegang teguh dengan kebenaran. Tujuannya agar mereka istiqomah di jalan kebenaran (orang-orang yang jujur). Jujur merupakan sifat terpuji yang dituntut keberadaannya dari kaum Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Allah Ta'ala berfirman :

وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ

 “…Laki-laki dan perempuan yang benar (jujur)…”  ( QS. Al-Ahzab : 35 ).

فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ

“…Tetapi jikalau mereka benar (imannya) tehadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." ( QS. Muhammad : 21 ).
     Allah Ta'ala memberitahukan nilai kejujuran, bahwa kejujuran itu merupakan kebaikan sekaligus penyelamat. Sifat itulah yang menentukan nilai amal perbuatan, karena kejujuran merupakan ruhnya. Seandainya orang-orang itu benar-benar ikhlas dalam beriman dan berbuat taat, niscaya kejujuran adalah yang terbaik bagi mereka.
     Shidiq merupakan jalan menuju Jannah dan tiada cara belajar yang tepat untuk jujur kecuali hanya membiasakan kejujuran dalam kehidupan.


Bab II. Kejujuran Ibarat Pedang Allah di Muka Bumi

     Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah (wafat 751 H) menerangkan sifat as-shidq (kejujuran), dengan perkataannya, “Yaitu maqam (kedudukan) kaum yang paling agung, yang darinya bersumber kedudukan-kedudukan para salikin  (orang-orang yang berjalan menuju kepada Allah), sekaligus sebagai jalan terlurus, yang barang siapa tidak berjalan di atasnya, maka mereka itulah orang-orang yang akan binasa. Dengannya pula dapat dibedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang yang beriman, para penghuni Surga dan para penghuni Neraka. Kejujuran ibarat pedang Allah di muka bumi, tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di atasnya melainkan akan terpotong olehnya. Dan tidaklah kejujuran menghadapi kebathilan melainkan ia akan melawan dan mengalahkannya serta tidaklah ia menyerang lawannya melainkan ia akan menang. Barangsiapa menyuarakannya, niscaya kalimatnya akan terdengar keras mengalahkan suara musuh-musuhnya. Kejujuran merupakan ruh amal, penjernih keadaan, penghilang rasa takut dan pintu masuk bagi orang-orang yang akan menghadap Rabb Yang Mahamulia. Kejujuran merupakan pondasi bangunan agama (Islam) dan tiang penyangga keyakinan. Tingkatannya berada tepat di bawah derajat kenabian yang merupakan derajat paling tinggi di alam semesta, dari tempat tinggal para Nabi di Surga mengalir mata air dan sungai-sungai menuju ke tempat tinggal orang-orang yang benar dan jujur. Sebagaimana dari hati para Nabi ke hati-hati mereka di dunia ini terdapat penghubung dan penolong.”


Bab III. Tingkatan Orang-orang Jujur

     Hakekat kejujuran adalah keserasian antara yang tersembunyi dan yang tampak dan antara yang lahir dengan yang bathin.
     Jujur memiliki enam tingkatan dan digunakan untuk enam makna antara lain :
Pertama : Jujur dalam ucapan dan perbuatan. Diantaranya adalah kejujuran dalam menyampaikan kabar baik tentang masa lalu atau berita masa yang akan datang, bisa juga dalam janji atau ingkar. Oleh sebab itu seorang hamba harus menjaga setiap lafazh yang terucap dari lisannya dan tidak berbicara kecuali dengan ucapan yang jujur. Inilah kejujuran yang paling dikenal dan tampak di kalangan masyarakat.
Kedua : Jujur dalam niat dan kehendak. Bisa diraih dengan bersikap ikhlash kepada Allah dalam setiap tingkah laku dan gerakan.
Ketiga : Jujur dalam tekad. Jujur dalam tekad berarti tidak ada keragu-raguan dalam tekad tersebut. Jadi jujur dalam tekad sebagai ungkapan kesempurnaan dan kekuatan yang ada dalam jiwa agar tidak lemah atau batal keinginan untuk mewujudkan.
Keempat : Jujur dalam  mewujudkan atau membuktikan tekad ketika ada kemampuan.
Oleh karena itu Allah memuji orang yang memiliki tekad bulat dan mampu membuktikan tekad tersebut sebagaimana firman Allah Ta'ala :

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖوَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." ( QS. Al Ahzab : 23 ).
Kelima : Jujur dalam amal perbuatan, yaitu tidak dusta dalam tingkah laku dan perbuatan.
Keenam : Jujur dalam merealisasikan/mewujudkan perintah agama. Ini tingkatan yang paling mulia dan berharga. Diantara contohnya jujur dalam perasaan khouf (takut), zuhud, ridha, cinta, tawwakal dan semisal.


Bab IV. Dusta Akhlaq Tercela

     Allah Ta'ala berfirman :

اِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰذِبُوْنَ

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kedustaan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pendusta." (QS. An Nahl : 105).
     Seorang mukmin mungkin saja terjerumus dalam akhlak buruk yang lain, akan tetapi mukmin yang sesungguhnya tidak akan berkhianat dan tidak akan berdusta. Sebagaimana dalam sebuah riwayat Nabi bersabda :

يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلَالِ كُلِّهَا إِلَّا الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ

“Seorang mukmin bisa memiliki tabi'at apa saja kecuali khianat dan dusta” ( HR. Ahmad ).
     Allah Ta'ala berfirman :

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ ﴿٧﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ ﴿٨﴾ كِتَابٌ مَرْقُومٌ ﴿٩﴾ وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ ﴿١٠﴾الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin. Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu? (Yaitu) kitab yang berisi catatan (amal). Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan! (yaitu) orang-orang yang mendustakannya (hari pembalasan).  ( QS. Al-Muthaffifiin: 7-11 ).
    

Bab V. Dusta Termasuk Tanda Kemunafikan

     Dalam hadits Ke-48 dari Jami'ul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab berkata :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، عَنِ النَّبيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : أَربعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً ، وَإِنْ كَانَتْ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفاقِ حَتَّى يَدَعَهَا : مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ  خَرَّجَهُ البُخَارِيُّ  وَمُسْلِمٌ

"Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada empat tanda seseorang disebut munafik. Jika salah satu perangai itu ada, ia berarti punya watak munafik sampai ia meninggalkannya. Empat hal itu adalah: (1) jika berkata, berdusta; (2) jika berjanji, tidak menepati; (3) jika berdebat, ia berpaling dari kebenaran; (4) jika membuat perjanjian, ia melanggar perjanjian (mengkhianati).” (HR. Bukhari dan Muslim).
     Kemudian ada hadits lain yang menambah satu tanda kemunafikan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, berkhianat.” (HR. Muslim, no. 59).


Bab VI. Pujian Terhadap Kejujuran dan Celaan Terhadap Kedustaan

     Allah membagi manusia menjadi dua yaitu kelompok orang-orang yang jujur dan kelompok munafiq sebagaimana Allah Ta''ala berfirman :

 لِيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَاۤءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاۚ

"Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." ( QS. Al Ahzab : 24). 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا 

"Dari Abdullah bin Mas'ud rodhiyaAllahu 'anhu, dia berkata: Rosulullah bersabda, "Berpegang-teguhlah dengan kebiasaan berkata jujur. Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan. Kebaikan akan mengantarkan ke Jannah. Seseorang yang selalu berkata jujur dia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah kedustaan. Sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada kejahatan. Kejahatan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang biasa berdusta, dia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.'' (HR Bukhori-Muslim).
     Umar bin Khoththob berkata: "Aku menjadi terhina karena kejujuran lebih kucintai daripada aku naik derajat dengan kedustaan."  
     Ali bin Abu Tholib rodhiyaallahu 'anhu selalu berusaha untuk jujur dalam ucapannya dan bersikap jujur dalam tindakannya sehingga beliau berkata: "Kejujuran lebih berharga daripada harta yang dimakan dan diwariskan seseorang."
Beliau juga berkata: "Dusta laksana fatamorgana."
     Ibnu Abbas rodhiyaallahu 'anhu berkata dalam mentafsiri firman Allah Ta'ala:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan..." ( QS. Al Baqoroh: 42).
Maknanya: "Janganlah kamu mencampuradukan antara kejujuran dan kedustaan."
Ibnu Abbas juga berkata: "Sangat berhak bagi Allah untuk tidak mengangkat derajat pendusta dan tidak  memenangkan hujjahnya."
     Imam Sya'bi berkata: "Tetaplah kalian di atas kejujuran meskipun terlihat merugikan, maka ketahuilah suatu ketika berguna bagimu. Dan hati-hatilah dari berdusta meskipun terlihat menguntungkan, ketahuilah suatu saat akan merugikan kamu.".
     Ahli hikmah berkata: "Pendusta tidak akan bisa jaya meskipun mampu meletakkan rembulan di atas kedua tangannya dan orang jujur tidak akan terhina meskipun seluruh orang memusuhinya."
     Kedudukan sifat jujur dan orang-orang jujur berada di tempat yang paling depan dalam kamus akhlaq mulia, sebaliknya sifat dusta dan para pendusta berada di tempat yang paling rendah dalam kamus akhlaq tercela. Dusta merupakan suatu akhlaq yang paling berbahaya dan kejujuran sesuatu yang paling berguna, oleh sebab itu kejujuran lebih tinggi dari keimanan karena kejujuran tidak hanya sekedar iman. Shidiq puncak dari seluruh nilai kebaikan dan keutamaan, sedang dusta akar dari seluruh kejahatan dan kerugian.

Bab VII. Penutup

     Pada hari Qiyamat Allah nembagi manusia menjadi dua yaitu kelompok orang-orang yang jujur dan kelompok munafiq yang pendusta sebagaimana Allah Ta'ala berfirman :

 لِيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَاۤءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاۚ

"Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." ( QS. Al Ahzab : 24).

وَقُلْ رَّبِّ اَدْخِلْنِيْ مُدْخَلَ صِدْقٍ وَّاَخْرِجْنِيْ مُخْرَجَ صِدْقٍ وَّاجْعَلْ لِّيْ مِنْ لَّدُنْكَ سُلْطٰنًا نَّصِيْرًا

"Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)." ( QS. Al Isro' : 80 ).
      Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur serta melindungi kita dari akhlaq dusta dan kejelekan para pendusta.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين






Blora, Senin 10 Muharrom 1445 H / 08-08-2022 M.



Hazim Al Jawiy





Rabu, 13 Juli 2022

  HUKUM PENGGUNAAN PENGERAS SUARA TANPA ADAB




بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله رب العالمين, والصلاة و السلام على نبينا محمد, عبدالله و رسوله وعلى اله و صحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم  الدين, و بعد :

     Wahai saudaraku kaum muslimin..ketahuilah kegaduhan akibat pengeras suara itu bisa mengganggu orang sholat, ibadah, belajar dll seperti halnya syaithon yang yang gemar mengganggu orang ibadah kepada Allah. Taatilah ulil amri (pemerintah/menteri agama/wakilnya) selama bukan perkara maksiat..sebagaimana Allah perintahkan dalam QS. An Nisa: 59.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59).
     Banyak dalil yang melarang kita bersuara sangat keras terutama di masjid diantaranya:
(1) Banyak ayat dan hadits yang memerintah untuk memelankan suara dalam shalat, dzikir dan doa.
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ 
Artinya: “Dan ingatlah Robbmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’rof: 205).
(2) Nabi bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ
Artinya, “Wahai manusia, kasihanilah diri kalian dengan mengecilkan suara kalian saat berdoa. Sungguh kalian tidak memanggil zat yang tuli dan yang gaib. Sungguh kalian memanggil Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Allah bersama kalian.” (HR Muslim).
Ayat dan hadits seperti ini secara eksplisit memerintahkan agar orang memelankan suara dalam shalat, dzikir dan doa.
(3) Dari Shahabat Abu Sa’id Al-Khudhri rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ
“Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (para shahabat) mengeraskan bacaan (Al-Qur’an) mereka. Kemudian beliau membuka tirai sambil bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya kalian sedang berdialog dengan Robb kalian. Oleh karena itu, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca Al-Qur’an” atau beliau mengatakan, “atau dalam shalatnya.”” (HR. Abu Dawud no. 1332, shahih)
(4) Banyak riwayat shahabat yang melarang suara keras di masjid. Umar bin Khoththob memberi teguran keras kepada dua orang Tho’if yang melantangkan suara di masjid Nabawi. Umar berkata:

لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Kalau kamu berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu aku mendera kamu berdua; kamu telah mengeraskan suara di masjid Rosulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam.” (HR. Bukhori).
(5) Mengganggu orang lain hukumnya tidak boleh, baik secara nash maupun ijma' ulama. Nabi bersabda: 
مَنْ ضَارَّ أَضَرَّ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ شَاقَّ شَاقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Siapa saja yang mengganggu orang lain maka Allah akan mengganggunya; dan siapa saja yang memberatkan orang lain maka Allah akan memberatkannya." (HR Ibnu Majah dan ad-Daraquthni).
Penggunaan pengeras suara luar bisa mengganggu konsentrasi sholat, ibadah dan aktifitas orang lain, kenyamanan orang yang sedang istirahat, dan orang yang sedang sakit.
(6) Penggunaan pengeras suara luar untuk menyampaikan nasehat dan bacaan Al-Qur'an bisa menjadi pintu masuk menuju riya dan sum’ah (pamer dan mencari popularitas) yang justru dilarang agama. Nabi bersabda:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الله بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرائِيَ اللهُ بِهِ
“Siapa saja yang pamer (amal agar didengar orang) maka Allah akan memamerkan keburukannya; dan siapa saja yang (amal agar dilihat orang), maka Allah akan memperlihatkan keburukannya.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
(7) Kaidah dar’ul mafâsid muqoddamun ‘alâ jalbil masholih atau menghindari kerusakan harus didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan. Penggunaan pengeras suara luar meskipun juga membawa kemaslahatan, seperti memperdengarkan nasehat dan bacaan Al-Qur'an, bila sampai mengganggu istirahat orang banyak, orang-orang yang sedang sakit dan semisalnya, maka harus dibatasi, sebagaimana kaidah ini. 
Kesimpulan:
1) Bila mengganggu orang lain maka hukumnya haram, meskipun yang terganggu hanya sedikit.
2) Bila tidak mengganggu orang lain, maka hukumnya adalah khilafus sunnah atau tidak berkesesuaian dengan sunnah, sebab syariat tidak menyunahkan mengeraskan suara dalam ibadah dan doa sehingga menggangu orang lain.
     Ingatlah di Akhirat ada Yaumul Hisab. Takutlah jika mendapat doa laknat dari orang-orang yang ibadahnya merasa terganggu atau terzholimi akibat penggunaan pengeras suara yang tanpa adab. Jangan sampai kita di Akhirat termasuk golongan orang yang bangkrut karena waktu di dunia gemar menzholimi 'abdi Allah ataupun mendapat balasan amal (karma) dari Allah. Sesungguhnya Allah Hakim yang Maha Adil. Laa haula wa laa quwwata illa billah..


Larangan Berbuat Zholim 

     Perbuatan zholim dilarang dalam Islam. Terdapat banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi Sholallahu’alaihi Wasallam yang mencela dan melarang perbuatan zholim. 
     Allah Ta’ala berfirman:

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zholim” (QS. Hud: 18).

وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ 

Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zholim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (QS. Hud: 102).

نَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ 

Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zholim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”” (QS. Saba: 40).

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلا شَفِيعٍ يُطَاعُ 

Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Ghafir: 18).

إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang zholim itu tidak mendapat keberuntungan” (QS. Al An’am: 21).
     Adapun dalil-dalil dari As Sunnah, Nabi Shollallahu’alaihi Wasallam bersabda:

قال الله تبارك وتعالى: يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا؛ فلا تظالموا

Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezholiman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezholiman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zholim’” (HR.  Muslim no. 2577).
     Beliau juga bersabda: 

اتَّقوا الظُّلمَ . فإنَّ الظُّلمَ ظلماتٌ يومَ القيامةِ

“Jauhilah kezholiman karena kezholiman adalah kegelapan di hari qiyamat” (HR. Al Bukhori no. 2447, Muslim no. 2578).
     Beliau juga bersabda:

المسلم أخو المسلم، لا يظلمه، ولا يسلمه

“Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzholiminya dan tidak boleh menelantarkannya” (HR. Muslim no. 2564).
     Dan dalil-dalil yang mencela dan melarang perbuatan zholim datang dalam bentuk muthlaq, sehingga perbuatan zholim dalam bentuk apapun dan kepada siapa pun terlarang hukumnya. Bahkan kepada orang kafir dan kepada binatang sekalipun, tidak diperkenankan berbuat zholim.
     Allah dan Rosul-Nya melarang kezholiman dalam bentuk apapun. Dan wajib untuk berbuat adil dalam segala sesuatu, Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al Maidah: 8).


Akibat Perbuatan Zholim

     Perbuatan zholim bisa menyebabkan pelakunya mendapat keburukan di dunia dan di akhirat. Diantaranya:
(1) Akan di-qishosh pada hari Qiyamat
     Dari Abu Huroirah rodhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya:

أتدرون ما المفلِسُ ؟ قالوا : المفلِسُ فينا من لا درهمَ له ولا متاعَ . فقال : إنَّ المفلسَ من أمَّتي ، يأتي يومَ القيامةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزكاةٍ ، ويأتي قد شتم هذا ، وقذف هذا ، وأكل مالَ هذا ، وسفك دمَ هذا ، وضرب هذا . فيُعطَى هذا من حسناتِه وهذا من حسناتِه . فإن فَنِيَتْ حسناتُه ، قبل أن يقضيَ ما عليه ، أخذ من خطاياهم فطُرِحت عليه . ثمَّ طُرِح في النَّارِ

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzholimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezholimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzholimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).
Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zholim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari qiyamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449).
(2) Mendapatkan laknat dari Allah
     Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ 

“(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zholim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk” (QS. Ghafir: 52).
Laknat dari Allah artinya dijauhkan dari rohmat Allah atau dijauhkan dari Jannah.
(3) Mendapatkan kegelapan di hari qiyamat
     Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Kezholiman adalah kegelapan pada hari qiyamat” (HR. Al Bukhari no. 2447, Muslim no. 2578).
(4) Terancam oleh doa orang yang dizholimi
     Doa orang yang terzholimi dikabulkan oleh Allah, termasuk jika orang yang terzholimi mendoakan keburukan bagi yang menzholiminya. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzholimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhori no.1496, Muslim no.19).
(5) Jauh dari hidayah Allah
     Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim” (QS. Al Maidah: 51).
(6) Dijauhkan dari Al Falah
     Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang zholim tidak akan mendapatkan al falah” (QS. Al An’am: 21).
Al falah artinya mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat
(7) Kezholiman adalah sebab bencana dan petaka
     Allah Ta’ala berfirman:

فَكَأَيِّن مِّن قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَّشِيدٍ

“Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zholim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi” (QS. Al Hajj: 45).


Tuntunan atau Pedoman Penggunan Pengeras Suara Di NKRI

     Dan telah ada tuntunan penggunaan pengeras suara berdasarkan Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Mushalla yang diperbarui adanya Surat Edaran Menteri Agama SE 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.
Aturan yang dibuat umaro' tersebut wajib kita taati selama bukan perkara maksiat.


Penutup


     Allah Ta'ala berfirman:

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang shodiq dari kejujuran mereka. Bagi mereka Jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho terhadap Allah. Itulah kemenangan yang agung." (QS. 5 Al-Maidah: 119).
     Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukany rohimahullah berkata:

«إن الباطل وإن ظهر على الحق في بعض الأحوال وعلاه، فإن الله سيمحقه ويبطله ويجعل العاقبة للحق وأهله»

"Sesungguhnya kebathilan walaupun mengalahkan kebenaran pada sebagian keadaan dan mengunggulinya, maka sesungguhnya Allah pasti akan melenyapkan dan menghancurkannya serta menjadikan kesudahan yang baik bagi kebenaran dan orang-orang yang mengikutinya."

رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

"Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kalian katakan.”

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين




Blora, 13 Dzulhijjah 1443 H/ 13-07-2022M



Hazim Al Jawiy



























Jumat, 01 Juli 2022

LOYAL DAN BENCI KARENA ALLAH VS HAWA NAFSU (tulisan bagian 3)


Bab IX. Syubhat dan Bantahannya


1. Argo cs berkata: "Aku bukan anakmu, jangan minta aku patuh kepadamu."
Bantahan:
(1) Amar ma'ruf nahi munkar itu wajib bukan hanya ditujukan kepada anak kita saja tapi terhadap siapapun yang berbuat mungkar, termasuk kepada raja atau pun kepada penguasa jika memang mampu (dengan catatan tidak boleh memberontak ataupun memerangi). Perkara ini sudah sangat jelas bagi orang-orang yang jujur dan berakal sehat.
(2) Silahkan jawab dengan jujur, "kenapa ketika ada orang yang selingkuh, berzina dalam keadaan saling suka, mengkonsumsi narkoba, korupsi dll..boleh diingkari? Apa yang boleh mengingkari hanya ibu bapak si pelaku saja???"
(3) Ketahuilah orang sengaja meninggalkan sholat tanpa udzur itu dosanya lebih besar dan hina daripada dosa zina ataupun selingkuh. Jika ada orang zina atau selingkuh saja banyak yang mengingkari keras, kenapa orang yang meninggalkan sholat dianggap hal biasa dan tidak boleh diingkari.??
(4) ketika orang bermaksiat maka orang tersebut berarti patuh ajakan syaithon, apa syaithon lebih berhak untuk ditaati daripada memenuhi ajakan orang yang mengajak taat kepada Allah??
Ini termasuk kedunguan dan kedustaan syaithon pak Jenggot cs.
2. Syubhat: "Menjadi orang itu jangan menyelisihi umume wong karena kita hidup bermasyarakat. Jika waktunya sekolah maka sekolah. Jika waktunya khitan maka khitan. Jika waktunya menikah maka menikah. dst."
Bantahan:
(1) Agama Allah itu dibangun di atas dalil sesuai pemahaman Salaful Ummah dan tidak mengikuti umumnya orang ataupun persangkaan semata. Allah berfirman:

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ 

"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan." (QS. Al An'am:116).
(2) Terkait khitan itu hukumnya baru diwajibkan jika sudah baligh. Para Shahabat Nabi pun mayoritas khitan menjelang baligh dan tidak mengadakan walimah khitan ataupun buwohan. Dan khitan itu insya Allah tidak diwajibkan bagi orang yang lahir dalam keadaan sudah terkhitan atau semisal. Jika memang sudah tidak ada bagian yang perlu dikhitan, bagian mana yang mau dikhitan??
(3) Jika mereka memang jujur dengan prinsipnya..ketika sudah waktunya sholat Jum'at, waktunya membaca Al Qur'an, waktunya sholat 5 waktu, waktunya amar ma'ruf nahi mungkar dst, kenapa tidak segera dikerjakan.??? padahal sudah wayahe.
(4) Dalam ilmu sosiologi pun mengakui bahwa agama termasuk unsur budaya. Sebaliknya budaya bukan unsur dari agama. Karena agama merupakan segala sesuatu yang didapat atau bersumber dari Al Kholiq, sedangkan kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan atau produk (cipta, rasa, karsa) dari manusia (makhluq). Sehingga ketika ada pertentangan maka agama Islam yang bersumber dari Al Kholiq itu lebih berhak dan wajib didahulukan daripada budaya/adat yang diciptakan atau produk (cipta, rasa, karsa) dari makhluq.
3. Syubhat Argo cs berkata:
 
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

"Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
Bantahan: Jangan memahami ayat mengikuti hawa nafsu. Ketahuilah ayat tersebut itu bukan dalil larangan untuk amar ma'ruf nahi munkar. Tapi ayat tersebut itu dalil agar kita berlepas diri dari orang-orang kafir ataupun orang musyrik yang mengajak berbuat syirik.
4. Syubhat pak Jenggot cs berkata: "ini bukan urusanmu!"
Bantahan:
(1) pak Jenggot cs mengatakan hal itu mendapat wahyu dari mana? Apa dari syaithon??
(2) Ketahuilah ucapan Nabi lebih berhak kita taati daripada ucapan syaithon dungu dan menyesatkan semisal pak Jenggot cs. Sedang Nabi yang mendapat wahyu dari Allah dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Keterangan hadits
- man ro-a: siapa yang melihat, maknanya adalah siapa yang mengetahui, walaupun tidak melihat secara langsung, bisa jadi hanya mendengar berita dengan yakin atau semisalnya.
- munkaron: segala yang dilarang oleh Allah dan Rosul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallam, pelakunya diingkari untuk melakukannya. Kemungkaran di sini disyaratkan: (1) jelas kemungkaran yang disepakati oleh pihak yang mengingkari dan yang diingkari; atau (2) orang yang diingkari punya hujah yang lemah.
- minkum: yang dilihat dari kaum muslimin yang sudah mukallaf (yang sudah dikenai beban syariat).
- fal-yughok yyirhu biyadihi: maka hendaklah mengubah dengan tangannya. Contoh, seseorang yang punya kuasa–misal: ayah pada anak–, ia melihat anaknya memiliki alat musik (tentu tidak boleh digunakan), maka ayahnya menghancurkannya.
- fainlam yas-tathi’ fa bi lisaanih: jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Yang mengingkari tetap bersikap hikmah dengan tetap melarang. Mengingkari dengan lisan termasuk juga mengingkari dengan tulisan.
fabi-qolbihi: mengingkari dengan hatinya, yaitu menyatakan tidak suka, benci, dan berharap tidak terjadi.
- adh‘aful imaan: selemah-lemahnya iman, yaitu menandakan bahwa mengingkari dalam hati itulah selemah-lemahnya iman dalam mengingkari kemungkaran. Sehingga jika hatinya tidak mengingkari kemungkaran maka menandakan tiada iman (bisa kafir).
(3) Imam Ahmad berkata, "Manusia itu membutuhkan sikap lemah lembut (mudaaroh) dan lemah lembut ketika diingatkan pada kebaikan dan kemungkaran. Hal yang dikecualikan adalah orang yang terang-terangan dalam kefasikan, maka ia tidak dimuliakan.."
(4) Para salaf mengatakan, telah disepakati bahwa amar ma’ruf nahi mungkar itu wajib bagi insan. Namun wajibnya adalah fardhu kifayah, hal ini sebagaimana jihad dan mempelajari ilmu tertentu serta yang lainnya. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah jika sebagian telah memenuhi kewajiban ini, maka yang lain gugur kewajibannya.
(5) Setiap rosul yang Allah utus dan setiap kitab yang Allah turunkan, semuanya mengajarkan amar ma’ruf nahi mungkar.
Yang dimaksud ma’ruf adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah.
Yang dimaksud mungkar adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.
(6) Meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebab datangnya hukuman dunia sebelum hukuman di akhirat. Janganlah menyangka bahwa hukuman meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar bukan hanya menimpa orang yang zholim dan pelaku maksiat, namun boleh jadi juga menimpa manusia secara keseluruhan.


Bab X. Allah Hakim yang paling adil dan tidak mungkin salah.

     Allah Ta'ala berfirman:

[  ] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rosul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).
     Allah berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيْهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبِّيْ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُۖ وَاِلَيْهِ اُنِيْبُ 

"Dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, maka keputusannya (terserah) kepada Allah. (Yang memiliki sifat-sifat demikian) itulah Allah Robb-ku. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali." (QS. Asy Syuro: 10).
Allah Ta'ala berfirman:

  قَالَ رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ ࣖ

"Dia berkata, “Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan.”  (QS. An Anbiya':112).
     Allah Ta'ala berfirman:

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ

"Bukankah Allah hakim yang paling adil?" (QS. At Tin: 8).
     Ayat terakhir surah At-Tin (ayat 8), yang artinya adalah “Bukankah Allah hakim yang paling adil?” sudah pasti tentu, setelah adanya keterangan - keterangan (bukti) tersebut dari surah At-Tin ayat 4, 5, 6, dan 7, Allah adalah hakim yang sangat-sangat adil di dunia dan maupun di akhirat, dibandingkan dengan hakim manusia. Allah sudah menciptakan kita dengan bentuk yang sebaik baiknya, Allah akan mengembalikan makhluk-Nya ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) bagi orang yang tidak taat kepada-Nya, dan Allah tidak akan mengembalikan makhluk-Nya ke neraka bagi orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan.
Dan pengadilan yang paling adil adalah nanti di Akhirat, khususnya pada saat hari perhitungan yaitu (Yaumul Hisab) tidak akan ada seorang pun yang bisa mendustakan Allah saat itu. Jadi sudah pasti Allah adalah hakim yang paling adil baik di dunia maupun di Akhirat.
    Allah juga sebaik-baik pemberi balasan karma (amal)..karma baik ataupun karma buruk di dunia ataupun di Akhirat. Dialah Allah 'Azizun Hakim. Laa haula wa laa quwwata illa billah.



Penutup


     Allah Azza Ta'ala berfirman:

قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang shodiq dari kejujuran mereka. Bagi mereka Jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho terhadap Allah. Itulah kemenangan yang agung." (QS. 5 Al-Maidah: 119).

     Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukany rohimahullah berkata:

«إن الباطل وإن ظهر على الحق في بعض الأحوال وعلاه، فإن الله سيمحقه ويبطله ويجعل العاقبة للحق وأهله»

"Sesungguhnya kebathilan walaupun mengalahkan kebenaran pada sebagian keadaan dan mengunggulinya, maka sesungguhnya Allah pasti akan melenyapkan dan menghancurkannya serta menjadikan kesudahan yang baik bagi kebenaran dan orang-orang yang mengikutinya."

رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

"Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kalian katakan.”

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين





Jum'at, 1 Dzulhijjah 1443/01-07-2022 M



Hazim Al Jawiy








Catatan untuk Argo:
(1) tulisan ini boleh ditanyakan kepada bapak menteri Agama,
(2) tulisan ini boleh dituntut di pengadilan,
(3) Argo dan pak Jenggot cs boleh minta bantuan para kyai ataupun para ustadz Salafiyyah untuk membantah tulisan ini jika memang sanggup untuk membantahnya,
(4) Argo dan pak Jenggot cs silahkan jika ingin membuat tulisan serupa,
(5) sebagai mukmin insya Allah diriku selalu ridho untuk berhakim kepada Allah 'Azizun Hakim..yang Maha Benar, Maha Adil dan tidak mungkin salah..di dunia ataupun Akhirat.
(6) terkait Argo sakit hati, insya Allah dia kuizinkan untuk qishosh/membalas sakit hatinya 1 jam/hr sampai sakit hatinya hilang. Misal sampai 7 th ke depan tiada masalah..insya Allah aku akan bersikap menjadi pendengar yang baik.
(7) Insya Allah sebagai bukti aku marah/mencela Argo karena Allah..jika Argo butuh bantuan, selama tiada udzur syar'i insya Allah aku akan tetap bersedia bantu.
     Setiap Taqdir Allah insya Allah terdapat hikmah yang Agung dan Sempurna..wa Alhamdulillah.


Tammat..

LOYAL DAN BENCI KARENA ALLAH VS HAWA NAFSU (tulisan bagian 2)


 Bab VI. Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar


     Allah Ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
      Sebagian ulama salaf mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi syarat (yang disebutkan dalam ayat di atas). Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka dia bukanlah umat terbaik.”
     Para salaf mengatakan, telah disepakati bahwa amar ma’ruf nahi mungkar itu wajib bagi insan. Namun wajibnya adalah fardhu kifayah, hal ini sebagaimana jihad dan mempelajari ilmu tertentu serta yang lainnya. Yang dimaksud fardhu kifayah adalah jika sebagian telah memenuhi kewajiban ini, maka yang lain gugur kewajibannya. Walaupun pahalanya akan diraih oleh orang yang mengerjakannya, begitu pula oleh orang yang asalnya mampu namun saat itu tidak bisa untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang diwajibkan. Jika ada orang yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar, wajib bagi yang lain untuk membantunya hingga maksudnya yang Allah dan Rasulnya perintahkan tercapai. Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 2)
     Setiap rosul yang Allah utus dan setiap kitab yang Allah turunkan, semuanya mengajarkan amar ma’ruf nahi mungkar.
Yang dimaksud ma’ruf adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah.
Yang dimaksud mungkar adalah segala istilah yang mencakup segala hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.
     Meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebab datangnya hukuman dunia sebelum hukuman di akhirat. Janganlah menyangka bahwa hukuman meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar bukan hanya menimpa orang yang zholim dan pelaku maksiat, namun boleh jadi juga menimpa manusia secara keseluruhan.
     Dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

"Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Faedah hadits
Pertama: Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan siapa saja yang melihat kemungkaran untuk mengubahnya sesuai kemampuan.
Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahullah berkata, “Pengingkaran dengan lisan dan tangan wajib dilakukan dengan melihat pada kemampuan.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:245)
Kedua: Tidak boleh melarang kemungkaran sampai diyakini hal itu kemungkaran, di mana dilihat dari dua tinjauan:
(1) perbuatan yang dilakukan diyakini mungkar,
(2) perbuatan tersebut dianggap sebagai kemungkaran oleh pelaku. Karena ada sesuatu termasuk kemungkaran, namun pelaku tidak memasukkannya sebagai kemungkaran.
Contoh: Makan dan minum siang hari bulan Ramadhan adalah kemungkaran. Namun ada orang yang sakit boleh saja dia makan, atau ia termasuk musafir boleh saja ia tidak berpuasa.
Ketiga: Kemungkaran harus dinilai sebagai kemungkaran oleh yang mengingkari dan pelaku yang diingkari. Jika perkara yang diingkari adalah perkara khilafiyah (masih ada beda pendapat), tidak ada pelarangan kemungkaran pada orang yang mengira bahwa hal itu tidak termasuk kemungkaran.
Contoh: Kita melihat ada seseorang yang memakan daging unta, setelah itu ia langsung shalat. Yang ia lakukan tidak perlu diingkari. Masalah ini masuk dalam perkara silang pendapat. Sebagian ulama menyatakan, wajib berwudhu ketika memakan daging unta. Sebagian ulama mengatakan tidaklah wajib berwudhu. Namun, jika ingin membahas hal ini dan ingin menjelaskan kebenaran, tidaklah masalah.
Keempat: Apakah mengubah dengan tangan dilakukan untuk setiap keadaan? Jawabannya, tidak. Jika ada masalah, kita tidak perlu melarang kemungkaran dengan tangan. Kerusakan yang besar bisa saja terhindar, caranya dengan menerjang kerusakan yang lebih ringan.
Contoh: Ada yang melihat kemungkaran pada pemerintah. Kalau ia mengubahnya dengan tangannya, ia sebenarnya mampu. Namun, jika itu ditempuh, kerusakan akan terjadi. Kerusakan tersebut bisa jadi pada orang yang mengingatkan, pada keluarganya, pada orang-orang dekatnya yang mendukung dakwahnya. Jika kita takut kerusakan seperti itu, kemungkaran yang terjadi tak perlu diingkari. Hal ini sama maknanya dengan ayat,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am: 108)
Kelima: Tangan adalah aalatul fi’li (organ untuk berbuat) sehingga disebutkan dalam hadits ubahlah dengan tangan. Oleh karena itu, perbuatan seseorang disandarkan pada tangannya seperti ayat,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syuro: 30)
Keenam: Ajaran Islam itu tidak ada kesulitan. Kewajiban itu tetap melihat pada kemampuan seseorang (istitho’ah).
Ketujuh: Jika seseorang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangan, ia mengubahnya dengan lisan. Jika tidak bisa dengan lisan, ia mengubahnya dengan hati. Bentuk mengubah dengan hati adalah tidak suka dan bertekad saat memiliki kemampuan akan mengubahnya dengan lisan atau dengan tangan.
     Ulama lain menyebutkan bahwa mengingkari kemungkaran dalam hati dengan cara:
(1) Benci akan kemungkaran tersebut.
(2) Berpindah dari tempat kemungkaran tadi.
     Ibnu Rojab Al-Hambali rohimahullah  mengatakan, “Pengingkaran suatu kemungkaran dengan hati adalah wajib bagi setiap muslim dalam segala keadaan. Adapun pengingkaran dengan tangan dan lisan dipandang dari kemampuan.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:246)
Kedelapan: Hati juga memiliki amalan. Hadits di atas menyebutkan, ubahlah dengan tangan, selanjutnya menyebutkan ubahlah dengan hati.
Kesembilan: Iman itu terdiri dari amal dan niat. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan dalam mengubah kemungkaran ada amal dan niat. Mengubah kemungkaran dengan tangan termasuk amal. Mengubah kemungkaran dengan lisan termasuk amal. Mengubah kemungkaran dengan hati termasuk dalam niat.
Kesepuluh: Kemungkaran diingatkan dengan cara yang halus dan lemah lembut. Sufyan Ats-Tsauri mengatakan,

لاَ يَأْمُرُ بِالمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ إِلاَّ مَنْ كَانَ فِيْهِ خِصَالٌ ثَلاَثٌ : رَفِيقٌ بِمَا يَأْمُرُ ، رَفِيْقٌ بِمَا يَنْهَى ، عَدْلٌ بِمَا يَأْمُرُ ، عَدْلٌ بِمَا يَنْهَى ، عَالِمٌ بِماَ يَأْمُرُ ، عَالِمٌ بِمَا يَنْهَى

“Hendaklah memerintah pada yang makruf dan melarang dari kemungkaran dengan tiga hal:
(1) Lemah lembut ketika memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar.
(2) Bersikap adil ketika memerintah dan melarang.
(3) Berilmu pada apa yang akan diperintahkan dan yang akan dilarang.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:256)
     Ibnu Rojab Al-Hambali menyebutkan perkataan Imam Ahmad berikut ini,

وقال أحمد : النّاسُ محتاجون إلى مداراة ورفق الأمر بالمعروف بلا غِلظةٍ إلا رجل معلن بالفسق ، فلا حُرمَةَ له ، قال : وكان أصحابُ ابن مسعود إذا مرُّوا بقومٍ يرون منهم ما يكرهونَ ، يقولون : مهلاً رحمكم الله ، مهلاً رحمكم الله .

“Imam Ahmad berkata, ‘Manusia itu membutuhkan sikap lemah lembut (mudaaroh) dan lemah lembut ketika diingatkan pada kebaikan dan kemungkaran. Hal yang dikecualikan adalah orang yang terang-terangan dalam kefasikan, maka ia tidak dimuliakan. Para murid Ibnu Mas’ud jika melewati sekelompok orang yang mereka pandang sedang berbuat jelek, mereka mengatakan, ‘Tak perlu tergesa-gesa, tak perlu tergesa-gesa, semoga Allah merohmati kalian.’” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:256)
     Dilanjutkan oleh Imam Ibnu Rojab, Imam Ahmad rohimahullah berkata,

يأمر بالرِّفقِ والخضوع ، فإن أسمعوه ما يكره ، لا يغضب ، فيكون يريدُ ينتصرُ لنفسه .

“Perintah lemah lembut dan halus tetap ada walaupun sedang mendengar kemungkaran yang tidak disukai. Saat itu, janganlah dahulukan emosi. Itulah orang yang disebut meraih kemenangan pada momen tersebut.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:256)


Bab VII. Ghibah Yang Dibolehkan Secara Ijma'

     Ghibah diperbolehkan apabila untuk mencapai tujuan yang dibenarkan syara', dimana tujuan itu tidak akan tercapai kecuali dengan jalan ghibah. Imam Nawawi menyebutkan ghibah diperbolehkan dalam 6 hal:
1. Untuk mengadukan perbuatan zhalim kepada penguasa atau wali hakim.
Ini dilakukan bila seseorang yakin bahwa penguasa tersebut mampu menghentikan kezaliman yang sedang terjadi. Misalnya, seseorang mengatakan: "Si Fulan telah menganiaya dan menyakiti saya". Maka, tindakan ini dibolehkan dan tidak ada dosa padanya.
2. Minta tolong untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan ke jalan yang benar.
Ghibah dalam kondisi ini adalah ketika seorang Muslim meminta tolong kepada orang lain yang diharapkan mampu mengubah kemaksiatan. Misalnya "Si fulan berbuat begini" dan lain sebagainya dengan maksud melenyapkan kemungkaran.
3. Meminta kepastian hukum atau fatwa
Misalnya, seorang wanita berkata kepada ulama,"Suami saya telah memukul dan menzalimi saya. Bagaimana hukumnya?" Maka, hal tersebut dibolehkan dalam Islam karena bukan termasuk mengumbar aib seseorang.
4. Memperingatkan atau menasehati kepada kaum muslimin agar tidak terjerumus dalam kejahatan.
5. Menyebutkan keburukan ahli maksiat atau ahli bid’ah.
Ini dilakukan supaya kaum Muslimin terhindar dari keburukan tersebut. Misalnya, ada tokoh yang menganjurkan pacaran, zina dan lain sebagainya yang bertujuan menyesatkan umat Muslim.
6. Memberi penjelasan atau pengertian, misalnya ada seseorang yang lebih dikenal denan gelar: "si Buta, si Tuli, si Bisu" dan lain sebagainya.
Seperti juga pak jenggot, pak kumis dll.

Bab VIII. Kisah Pertemanan karena Allah Vs Hawa Nafsu

     Berikut ini insya Allah berisi ringkasan kisah sebuah pertemanan di kehidupan nyata, tapi sengaja aku bercerita dengan menggunakan nama samaran..semoga ada ibroh yang bisa diambil.

1. Kembali ke kampung halaman dan makar pak Jenggot.
     Pada tahun 2010 M setelah diriku lulus kuliah dan belajar agama di ponpes Salafiyyah beragam Versi selama 7 tahun, maka diriku kembali ke kampung halaman. Untuk mengamalkan wasiat Nabi, maka diriku pun memelihara beberapa kambing. Keadaan keluargaku menjadi berubah atau sering ribut sejak kehadiran pak Jenggot dan syaithon Saif dari aliran jam'iyyah Salafiyah. Dirinya terbukti telah dusta dan khianat karena sebelum meminang saudariku, diriku mengajukan 3 syarat yaitu (1) tidak menikah di Blora, (2) tidak tinggal di kampung sini dan (3) harus mandiri (tidak menambah beban keluargaku). Jika dirinya tidak menyanggupi, maka tentu pinangan aku tolak. Dia pun menyanggupi. Karena waktu itu diriku masih husnuzhon terhadapnya..maka cukuplah Allah sebagai saksi.
     Setelah terbukti dusta dan khianat (yang mana dusta dan khianat bukan tabiat seorang mukmin) serta mendakwahkan kebathilan dan kesesatan maka keluargaku sering ribut sesuai Taqdir Allah. Dirinya gemar mencari muka di hadapan bapakku ketika masih hidup..tapi lain hal ketika bapakku berada di rumah sakit maka diriku yang setiap hari mengurus sapi bapakku dan jika malam kembali berjaga di rumah sakit. Yang sering membantu aku adalah Qudaim kecil. Sedang pak jenggot sering klontang-klantung di rumah dan tidak bekerja..bahkan juga libur kerja jualan sari kedelai. Setelah bapakku meninggal dunia maka dia kehilangan perisai yang cukup diandalkan. Itu latar belakang permusuhanku dengan syaithon pak Jenggot dan syaithon pendusta Saif yang keduanya sama-sama pernah belajar ilmu sihir (sebagaimana pengakuan dari Saif sendiri).
     Sebagaimana umumnya para syaithon walau tidak mampu mendatangkan burhan (hujjah dan kalam Salaf), maka 2 syaithon pendusta dari bangsa manusia ini pun tidak ridho dan enggan diajak berhakim kepada Allah 'Azizun Hakim. Dan telah Allah tetapkan bahwa para syaithon itu musuh bagi orang-orang mukmin. Mereka mengajak kepada kesesatan dan maksiat kepada Allah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

2. Pertemuan dengan Argo awal pertemanan.
     Pada tahun 2011 M diriku sering melihat Argo ketika dirinya nyelep padi di rumahku. Walau sedikit pangkling, diriku masih mengenali tanda wajah kecilnya. Tapi yang kuherankan waktu itu dia tidak pernah menyapaku. Diriku juga pernah minta bapakku pesan dedak ke Argo juga tidak pernah dia beri. Hingga suatu hari aku dipesenkan dedak ke Argo oleh teman kecilku dan sudah kuanggap seperti keponakanku bernama Qudaim. Sebelum remaja dia sering menemani dan membantuku termasuk ketika kambingku melahirkan..semoga Allah membalas kebaikan Qudaim kecil. Kemudian pada siang hari aku dengan ditemani Qudaim datang ke rumah Argo untuk mengambil 2 karung dedak yang kupesan. Itu pun Argo tidak menyapaku, dia menyambutku dengan dingin melebihi terhadap orang asing. Padahal rumah kami cukup dekat dan kami seumuran hanya selisih sekitar 40 hari. Ibunya pun dulu sering kesini menemui ibuku. Bahkan Argo minta agar karungnya dikembalikan pun juga lewat Qudaim dan tidak bicara ke aku langsung. Bertemu di jalan seperti bertemu dengan orang asing.
     Setelah Qudaim remaja dan dekat dengan teman-teman sekolahnya, maka Argo mulai mendekatiku. Awalnya hubungan kami biasa saja seperti penjual dengan pelanggan..tapi lambat laun aku mulai simpati terhadapnya karena sering ketemu Argo waktu menyelep padi dan mengantar dedak yang aku pesan. Hingga suatu hari Argo kirim sms dan mengungkapkan intinya, "...terima kasih, sampeyan sudah kuanggap lebih dari teman dan lebih dari saudara."
Karena diriku cukup polos, maka dalam hati diriku senang jika memang dianggap lebih dari saudara. Terlebih ketika mengetahui masa kecil Argo sering diliputi kesedihan dan kurang mendapat kasih sayang dari ortunya karena cerai sehingga dirinya pun diasuh neneknya. Semoga Allah merohmati Argo kecil yang belum berdosa. Aku semakin salut terhadap dirinya dan dia pun mulai kuistimewakan. Di sisiku kedudukan Argo  seperti tangan kananku atau seperti sebuah jari dari 5 jariku. Dalam arti jika jariku berkurang satu, meski bisa hidup normal tentu aku merasa kehilangan sebuah jariku. Andai rasa sakitnya sudah hilang, bekas potongan jari insya Allah akan sulit hilang kecuali Allah ganti dengan jari yang lebih baik. Mulai nyelep padi, membajak dengan traktor, membantu mengurus hewan qurban, beli dedak dll. Dirinya juga yang mendukung aku membuat rumah pada bulan Muharrom tepatnya pada hari Asyuro. Argo juga biasa mengambil jambu air ataupun Mangga jika berbuah. Kami saling bantu dan memberi manfaat untuk urusan dunia.
     Aku pun pernah tanya Argo: "dirimu dekat denganku, apa tidak khawatir terpengaruh aku?" maka dijawab "jika terpengaruh diajak baik, aku malah senang. Aku justru khawatir berteman dengan orang jelek..nanti aku diajak mabuk."
     Setelah tersebar kabar bahwa Argo itu teman dekatku..maka diriku seperti berada di jalan yang bercabang. Aku senang berteman dengan Argo..karena aku merasa punya teman kepercayaan sepeninggal bapakku. Tapi satu sisi aku juga takut hari Qiyamat. Yang mana sesama teman akan bermusuhan kecuali orang bertaqwa. Untuk membuktikan kebenaran ucapannya maka diriku pun mengujinya. Itu latar belakang pertengkaran kami..karena diriku mengajaknya menjaga sholat dan tidak konsumsi asap beracun yang bukan halalan thoyyiban.

3. Ujian Pertemanan dengan Argo akibat dusta dan inkar janji.
      Untuk membuktikan ucapan Argo yang menganggap aku lebih dari teman maka aku meminta Argo untuk menjaga sholat demi kebaikan dirinya. Aku juga minta dia tidak menghirup asap beracun demi kebaikan dia sekeluarga. Disamping aku tidak ingin melihat Argo sakit.  Tapi dirinya tidak mempercayai nasehatku dan lebih mempercayai pak jenggot yang punya tabiat dusta dan khianat. Kemudian Argo mulai menjauhiku. Sejak saat itu kemudian aku merasa apa yang diucapkan ternyata dusta.?
     Meski hubungan kami mulai renggang..insya Allah aku tetap berupaya dan ingin menjadi kawan sejatinya. Ketika Fujair lahir maka aku pun turut senang..sehingga Argo kuberi hadiah uang untuk membantu 2/5 biaya kelahiran.

4. Perubahan pada Argo akibat pergaulan dengan pak jenggot.
     Aku memang beda dengan pak Jenggot Salafiyyah yang mana orang kafir, shohibul bid'ah, pecinta dunia dan anjing-anjing dunia dari ahlu hawa tetap dijadikan teman. Tapi itu wajar saja kerena dirinya pun pernah belajar sihir kesaktian, menyanyi di masjid, pacaran dll. Bisa saja jin jahatnya masih setia bersamanya sebagaimana keberadaan syaithon qorin yang mengajak kepada kesesatan.? Rumahnya saja banyak shuroh bernyawa..rumah yang dibenci malaikat rohmat dan dicintai syaithon.? Na'udzubillah.
     Melihat Argo selalu menghindar dariku, akhirnya diriku tidak bisa menahan diri. Sampai pada suatu kesempatan tepatnya pada hari Kamis 31-12-2015 aku bertemu Argo di sawah. Aku bilang kepadanya intinya: "jangan bermuka dua. Engkau pendusta. Dusta lebih dari 19 kali dan tidak tepat janji".
Argo kemudian emosi dan kami saling mengangkat suara. Bahkan dadaku sempat didorong kemudian dipisah tetangga yang kebetulan di sawah. Dia merasa dirinya benar, tapi takut diajak berhakim kepada Allah untuk buktikan.
     Dengan bertengkar seperti itu aku kira bisa melupakannya. Tapi hatiku justru merasa sedih karena Argo memusuhiku..sehingga imbasnya kambing-kambingku menjadi kurang terurus. Sebagian kambing ada yang mati karena sakit & sebagian insya Allah ada yang mati dengan sebab dibunuh syaithon pada malam hari akibat diriku lengah. Ketika ambil rumput jariku pun sering tergores sabit karena banyak pikiran.

5. Kegembiraan sesaat waktu ishlah.
     Lebih dari 5 tahun kami bertengkar ternyata aku gak bisa membenci Argo walau aku tahu kejelekannya. Aku masih ingat dirinya cukup semangat mendukungku membuat rumah di bulan asyuro, maka aku pun berupaya mengajak damai. Hingga suatu hari kami pun bisa ishlah(damai) tepatnya hari Ahad, 08 Robi'ul Awwal 1442 H (25-10-2020 M) atau waktu awal memasuki musim penghujan tahun 2020. Dirinya datang ke rumahku dan kusambut dengan gembira setelah sekian lama tidak pernah duduk-duduk bersama. Dia pun janji kelak insya Allah akan mengantar aku berangkat haji. Kemudian pada suatu sore Argo kesini dengan Fujair kecil mk Fujair pun aku gendong sebentar seperti terhadap keponakanku.
     Aku pun janji bahwa selama aku hidup 10% buah-buahanku adalah hak Argo sebagai hadiah. Janjiku insya Allah sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Argo juga pernah menemani aku sholat pada tanggal 21 Jumadil Akhir 1442 H ( 03-02-2021 M), sehingga di sisiku Argo seperti kertas putih lagi..itu hari yang paling bahagia waktu bersama Argo. Tapi ternyata itu tidak lama..para syaithon mungkin tak suka mengetahui kami akrab, sehingga mencegah Argo untuk mengerjakan sholat Jum'at. Kami pun bertengkar lagi. Qodarullahi wa maa sya-a fa'ala..Ketentuan Allah, dan apa yang Dia Kehendaki telah Dia kerjakan.

6. Putus pertemanan karena Allah vs hawa nafsu akibat kejahatan pak jenggot dan para syaithon.
     Amar ma'ruf nahi munkar hukumnya fardhu kifayah..jika tiada seorang pun yang menunaikan tanpa ada udzur maka semua orang berhak menanggung dosa. Meninggalkan sholat itu dosanya jauh lebih besar daripada minum khomr (arak), riba, mencuri ataupun zina. Mungkin ini diantara kedunguan pak Jenggot..kenapa dia tidak sekalian duduk-duduk ke tempat lokalisasi perzinaan.?  Kemudian amar ma'ruf nahi munkar itu wajib bukan hanya ditujukan kepada anak kita saja, tapi untuk semua manusia. Jika pak jenggot dan Argo taat kepada iblis atau dukun..apa keduanya berarti anaknya iblis atau dukun.???
     Sebelum terjadi pertengkaran gelombang ke-2, Argo sudah sering kuingatkan intinya
"silahkan blokir nomorku (agar aku gak bisa lagi mengajak sholat ataupun minta menjauhi kejelekan). Tapi jika kamu memblokir nomorku, maka itu bukti menunjukkan kamu gak menganggap aku sebagai teman.?". 
     Karena sudah 7 tahun aku belum juga melihat Argo sholat Jum'at..hanya sekedar janji kosong dan tidak ditunaikan maka akhirnya kuperingatkan dengan tegas tentang ancaman balasan karma dari Allah yang intinya sbb: (1) hidup tidak tenang dan diselimuti banyak keluh kesah(perkara harta, pertanian, kesehatan, dll), (2) menjadi budak dunia sehingga badan letih tapi hatinya tidak puas, (3) ganti dikhianati/ditinggalkan teman atau orang-orang kepercayaannya, (4) tidak merasakan bahagia haqiqi, (5) berhak terhinakan dan mendapat balasan karma dari Allah di dunia/Akhirat akibat mengkonsumsi asap beracun dan lain-lain. Kemudian kusebut munafiq karena sering dusta, ingkar janji dan khianat..yang mana 3 perkara ini insya Allah umumnya bisa menjadi sebab permusuhan dalam hubungan pertemanan.
    Pada malam Rabu 2 Romadhon 1442 H (14-04-2021 M) sekitar tengah malam dengan ditemani istrinya, Argo mendatangi rumahku dalam keadaan emosi. Aku terbangun ketika terdengar bunyi telpon. Waktu itu aku gak tahu jika Argo di depan rumahku. Aku kira Argo nelpon dari rumah. Maka diriku kirim pesan nanti saja jika sudah tidak menahan marah. Tapi kemudian pintu rumahku digedor-gedor keras sambil mengancam akan didobrak. Maka pintu rumah segera kubuka dan diriku sengaja hanya diam karena tidak ingin ribut pada tengah malam sehingga ganggu tetangga. Setelah kemarahan agak reda maka dia pun pulang.
      Untuk membuktikan bahwa diriku tidak takut terhadap Argo, maka besoknya pada dini hari aku sengaja datang ke rumahnya sambil bawakan kurma, pisang dan uang 20 ribu (uang kelebihan beras yang kupesan). Dengan sabar aku tunggu sampai dia terbangun untuk makan sahur. Niatku dari rumah jika Argo memuiku dengan baik dan menerima pemberianku, mungkin itu hari terakhir dan juga perpisahan. Jika memang putus pertemanan..yang kuinginkan bukan dalam keadaan salah paham, tapi karena ruh kami yang tidak bisa berkumpul. Niat baikku disambut dengan emosi. Hingga kemudian dua lenganku dicengkram dengan kuat. Aku hanya menatap dirinya sambil berkata "terserah dirimu mau kamu apakan aku". Maka ibunya buru-buru keluar untuk melerai. Kemudian bungkusan plastik kresek yang awalnya akan kuberikan Argo akhirnya kuberikan ibunya. Kemudian aku pulang dengan menahan sedih. Alhamdulillah ala kulli hal.
     Kemudian pada hari Jum'at 4 Romadhon 1442 H (16-04-2021 M) aku melihat Argo sholat Jum'at di masjid. Alhandulilah..dalam hati aku sangat senang, walau akibatnya dia mungkin membenciku. Firasatku benar pada Jum'at sore Argo datang kesini minta bantuan pak Jenggot. Dengan angkuh Argo menghinakan aku di depan pak Jenggot dan membentak saudariku yang berupaya melerai. Dia mengancamku akan dilaporkan desa. Mungkin dia kira gertakan membuatku takut, maka untuk menghancurkan keangkuhan Argo dan pak Jenggot hari Ahad pagi 6 Romadhon 1442 H (18-04-2021 M) aku menunggu Argo di jalan dekat rumahnya. Setelah dia menghampiriku kuberikan selembar tulisan bahwa masalah ini akan kulaporkan ke kepala dusun nanti ba'da Maghrib. Setelah aku pulang, Argo segera menyusulku. Argo kuminta agar dirinya pulang saja kemudian aku ditarik supaya keluar rumah sambil ninju pipiku. Dia kemudian minta bantuan pak Jenggot. Entah karena kedunguannya atau mungkin mendapat wahyu dari syaithon, maka pak Jenggot langsung membela Argo dan memvonis diriku yang keliru. Nabi Dawud saja ketika menghakimi 2 orang berselisih dan masing-masing pihak ditanya, itu saja pernah salah menghakimi (tidak tepat). Apalagi pak jenggot yang prosedurnya saja sudah bathil dan hanya bersandar hawa nafsunya. Dia gembira menyaksikan Argo mencelaku setelah tahu Argo habis ninju pipiku. Pak jenggot bak kesurupan syaithon kemudian berjoget riang dengan tarian sontoloyo bebek buang tahi ke arah qiblat seperti tarian banci. Mendengar adanya keributan maka kemudian salah satu pamanku datang berupaya melerai.
    Setelah kepala dusun datang, maka pak Jenggot masuk rumah dan tak berani menampakkan diri. Mungkin dia khawatir kutuntut karena pak Jenggot justru memperkeruh keadaan sambil berjoget ria seperti kesurupan syaithon yang masuk bersama aliran darahnya.
     Argo setelah meninju pipiku kemudian mengajak kepala dusun datang ke rumahku untuk diselesaikan secara damai. Di depan kepala dusun maka Argo sengaja kutekan untuk mengakui salah dan minta maaf kepadaku. Kemudian kami jabat tangan dengan senyum dan mataku berkaca-kaca dalam hatiku "kenapa dirimu tega terhadapku? Kita adalah teman. Tanpa minta maaf pun insya Allah aku akan selalu berupaya memaafkanmu..kecuali jika engkau bersekutu dengan pak jenggot. Aku terpaksa menekanmu untuk minta maaf sebagai pelajaran agar tidak kamu ulangi."
     Di depan diriku dan Argo, maka kepala dusun pada tanggal 18-04-2021 M memutuskan  intinya: "Supaya gak ada masalah lagi..mulai sekarang mas Argo jangan dekat dengan mas Teguh dan jangan dekat dengan pak Jenggot."
     Seiring berjalannya waktu maka diriku mengetahui permintaan maaf Argo tidak tulus dan merasa dirinya yang benar. Insya Allah itu bisa terlihat pada tanda di wajahnya. Dan itu terbukti dirinya mengklaim benar dan menyalahkan diriku.
Allah, malaikat dan Bumi insya Allah sebagai saksi Argo tidak mau menjauhi syaithon pak jenggot. Sebagaimana kusaksikan sendiri dan kuperingatkan pada hari Sabtu, 25 Juni 2022. Argo insya Allah tidak mungkin berani sumpah untuk mengingkari bahwa dirinya tidak mau menjauhi pak jenggot sebagaimana Argo menjauhiku. Jika di dunia bisa menghindar dari hukum Allah, apa di Akhirat yaqin mampu menghindar dari  hukum Allah.??
     Jika Argo mengatakan bahwa aku tidak berhak mengatur dirinya, maka dia pun juga tidak berhak mengatur diriku. Ini baru adil kan? Sehingga diriku pun punya hak untuk tunaikan kewajiban yang Allah perintahkan dalam amar ma'ruf nahi munkar.

7. Ketika sebuah harapan berbeda dengan Taqdir Allah.
   Jika Argo merasa sakit hati..silahkan tanya kepada hati nurani, gimana andai keadaan dibalik..misal dia posisinya menjadi diriku yaitu dalam posisi benar kemudian dihina, sering dibentak, dikeroyok dengan minta bantuan syaithon musuhku, pintu rumah digedor-gedor keras pada tengah malam dan mau didobrak, 2 lenganku pernah dicengkram keras, didorong, pipi ditinju dll..jika dia yang mengalaminya apa gak lebih sakit hati.?? Jika Argo yaqin benar dan tidak zholim, kenapa tidak mau kuajak berhakim kepada Allah?
    Andai itu bukan Argo..mungkin sulit bagiku untuk memaafkannya sampai hari Qiyamat. Apa Argo tidak merasakan belakangan aku lebih banyak diam dan tidak menanggapi ucapannya ketika ketemu..insya Allah bukan karena aku takut terhadapnya? Diriku lebih banyak diam karena tidak ingin menambah luka di hati Argo. Sehingga aku hanya berupaya menjadi pendengar baik ketika Argo emosi dan marah.
     Diriku menasehati Argo dan mengajak kepada kebaikan karena diriku berharap semoga pertemanan kami bisa kekal di dunia dan di Jannah. Bukan di dunia kami akrab, tapi di Akhirat saling musuhan akibat pertemanan terjalin karena hawa nafsu ataupun karena tujuan dunia. Na'udzubillah.
     Setiap taqdir Allah terdapat hikmah yang agung dan sempurna, sehingga berhak kita cintai..sehingga dengan mencintai Taqdir Allah insya Allah bisa menjadikan kita selalu bahagia di dunia dan Akhirat. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

8. Pengaruh Akibat Dosa dan Maksiat.
Diantara pengaruh maksiat dan dosa:
(1) Maksiat adalah penyebab hinanya seorang hamba di hadapan Allah dan berhak mendapat adzab.
Hasan Al Bashri rohimahullah berkata: "Derajat mereka menjadi rendah di hadapan Allah. Oleh sebab itu mereka berbuat maksiat. Kalau mereka berkedudukan mulia di hadapan Allah, tentu Allah akan memelihara mereka. Allah berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُوْمُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَاۤبُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّاسِۗ وَكَثِيْرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُۗ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ ۩ۗ

" Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki." (QS. Al Hajj: 18).
(2) Dosa itu Membawa Sial Bagi Dirinya dan yang di sekitarnya.
Selain bagi pelaku dosa, orang lain pun dari kalangan manusia maupun binatang bisa sama-sama merasakan akibat kesialan dari dosanya. Sehingga pelaku dan orang lain pun ikut terimbas kesialan dosa dan perbuatan zholim tersebut.
(3) Kemaksiatan  dapat menimbulkan kehinaan.
Kemuliaan yang sesungguhnya adalah dalam ketaatan kepada Allah. Abdullah bin Al Mubarok berkata:
"Aku tahu, bahwa dosa-dosa itu mematikan hati bila kecanduan dosa, akan lahir kehinaan jiwa,
Meninggalkan dosa berarti menghidupkan hati maka yang terbaik untuk diri kita adalah meninggalkannya."
(4) Karena dosa, kehormatan dan martabat seorang hamba di hadapan Allah menjadi jatuh.
Demikian juga di hadapan orang lain. Karena makhluq yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Orang yang paling dekat di sisi Allah adalah yang paling taat kepada Allah.
(5) Dosa menimbulkan kegersangan yang amat sangat dalam hati.
Para pelaku dosa akan mendapatkan hatinya begitu gersang, yang kegersangan itu membuat dinding antara dirinya dengan Robbnya. Hidup yang paling pahit adalah hidup orang yang berhati gersang.
(6) Dosa dapat menghilangkan berbagai kenikmatan dan mengundang berbagai bencana.
Allah berfirman:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ 

"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy Syuro: 30).
(7) Dosa dapat mencabut nama baik  dan kemuliaan seseorang.
Sebaliknya dosa akan melekatkan nama buruk dan kehinaan pelakunya. Status sebagai mukmin sejati, orang baik, orang yang berbuat ihsan, orang bertaqwa, orang taat, orang yang tawakkal, orang sholih, ahli ibadah dan lain-lain bisa tercabut dari diri pelaku dosa. Sebaliknya justru dilekatkan padanya gelar sebagai orang fasiq, ahli maksiat, penyeleweng, pendusta, syaithon, orang jahat dan sejenisnya.

9. Upaya Mengajak Ishlah/damai.
     Aku sudah sering berupaya mengajak ishlah, tapi Argo yang tidak menginginkan damai. Mungkin karena dirinya pegang prinsip "orang jika punya hubungan dekat kemudian bertengkar itu tidak bisa baikan lagi.?" Setahuku itu keyeqinan bathil. Hal seperti itu bisa terjadi umumnya karena lebih mendahulukan hawa nafsu.
     Pada tanggal 19-06-2021 M pun aku kirim pesan untuk Argo yang isinya:
"Bismillah..
Untuk kawanku Argo. Gimana jika kita membuat perjanjian? Isinya: (1) kita sama-sama menjaga sholat wajib (termasuk sholat Jum'at), (2) kita bersikap seperti dulu (bukan seperti orang bertengkar/sengaja menjaga jarak), (3) kita tidak saling sms, kecuali isinya memberi kabar/semakna "aku ada perlu, bisa ketemu di rumah atau dimana?", (4) kita saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa (termasuk mengantar berangkat haji), (5) kita tidak boleh bertengkar selama di dunia.
Aku mengajak ini..karena aku beriman adanya balasan karma (=amal perbuatan) dari Allah di dunia/Akhirat. Sebagai kawanmu..aku mengkhawatirkanmu. Kuharap kamu bisa menerima dan sepakat dengan isi perjanjian ini. Gimana bro?"
Tapi tidak pernah ditanggapi..padahal dulu Argo pernah bilang bahwa dirinya bukan pedendam dan tidak pernah membenciku.

10. Upaya apa lagi yang sebaiknya aku tempuh dan sesuai ajaran Islam?
     Insya Allah diriku sudah berupaya semampuku..diantaranya:
(1) aku mengajak ishlah, tapi Argo tidak menginginkan damai.?,
(2) Aku ajak berhakim kepada Allah untuk minta keadilan Allah dan buktikan siapa yang benar..tapi Argo tidak ridho?,
(3) Aku ajak diselesaikan desa..tapi pipiku malah ditinju.
(4) Di depan kepala dusun..dirinya mengakui dirinya salah dan minta maaf kepadaku. Tapi faktanya masih merasa dirinya yang benar.
(5) Kepala dusun sudah memutuskan, "Supaya gak ada masalah lagi..mulai sekarang mas Argo jangan dekat dengan mas Teguh dan jangan dekat dengan pak jenggot.."
Tapi gimana fakta..Argo tidak mau menjauhi pak jenggot sebagaimana dirinya menjauhiku.
(6) Aku tetap pegang janji dan katakan kepada Argo, "10% hasil pohon buah-buahan milikku selama aku masih hidup tetap menjadi hakmu, sehingga dirimu bebas mengambil meski tanpa izin. Itu semua sudah taqdir yang Allah tetapkan di Lauh Mahfuzh."
(7) Waktu ketemu aku juga berkata kepada Argo, "Beritahu diriku apa yang kamu sukai dan kamu benci? Selama bukan perkara haram dan tidak menyelisihi kebenaran..semoga sisa hidupku bisa menyenangkanmu." Tapi dia menjawab, "tidak ada.". Wa Allahu a'lam.

رَبِّ احْكُمْ بِالْحَقِّۗ وَرَبُّنَا الرَّحْمٰنُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ

"“Ya Robb-ku, berilah keputusan dengan adil. Dan Robb kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kalian katakan.."

 
Bersambung...bagian 3.

Ketika Nasi Hantaran Menjadi "Risywah Sosial" dan Jerat Maksiat

  Ketika Nasi Hantaran Menjadi "Risywah Sosial" dan Jerat Maksiat Di tengah masyarakat kita, tradisi hantaran makanan menjelang h...